Airbus A380 Tak Sesuai buat Jamaah Haji Indonesia

Airbus A380 Tak Sesuai buat Jamaah Haji Indonesia

Kementerian Perhubungan menilai ide penggunaan pesawat Airbus A380 tidak efektif untuk melayani penerbangan haji. Pasalnya, pesawat jenis tersebut tidak bisa mendarat di seluruh bandara di Indonesia.

Menteri Perhubungan EE Mangindaan mengatakan, tidak semua bandara memiliki landasan pesawat sepanjang 3.000 meter.

”Selain itu beban dari pesawat itu juga cukup berat untuk mendarat di bandara,” kata dia dalam raker Komisi VIII dengan Menhub RI, Senin (17/2/2014).

Menurut Mangindaan, penggunaan pesawat berukuran besar untuk melayani penerbangan haji merupakan ide bagus. Namun, harus disesuaikan antara jenis pesawat dengan kondisi bandara.

Dia mengaku, telah mendengar rencana pembelian pesawat Airbus A380 oleh Menteri Agama. Akan tetapi, yang mampu bandara yang sanggup memfasilitasi pesawat tersebut hanya beberapa di Indonesia. Di antaranya, Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Kuala Namu, Deli Serdang, Sumatra Utara.

Prinsipnya, ujar Mangindaan, pihaknya menyetujui rencana pembelian pesawat dengan jenis itu. Selain itu dia menginformasikan, penerbangan tidak diistimewakan hanya untuk Garuda Indonesia dan Saudi Arabian Airlines. Pihaknya membuka pintu bagi maskapai lainnya yang ingin membuka layanan penerbangan haji. Namun, harus melalui proses tender terlebih dahulu dan memenuhi persayaratan yang telah ditentukan.

Airbus A380 yang diproduksi oleh Airbus S.A.S. adalah sebuah pesawat berbadan lebar dua tingkat, dengan empat mesin yang mampu memuat 850 penumpang dalam konfigurasi satu kelas atau 555 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas.

Pesawat ini melaksanakan penerbangan perdana pada 27 April 2005 dan telah memulai penerbangan komersial pada akhir tahun 2007 setelah ditunda beberapa kali. Pesawat ini juga merupakan pesawat penumpang komersial  terbesar yang pernah dibuat dengan julukan Superjumbo. (rpk/bh)