Agustus, 318 Saham Masuk Daftar Efek Syariah

Agustus, 318 Saham Masuk Daftar Efek Syariah
ilustrasi: serambiummah

Otoritas pasar modal Indonesia terus mendorong berkembangnya  instrumen investasi pasar modal syariah guna memberikan alternatif bagi calon investor dalam melakukan investasinya.

Data PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat setidaknya ada 318 saham yang masuk dalam kriteria daftar efek syariah pada Agustus 2015, naik dari posisi sebelumnya yang baru mencapai 237 saham pada akhir 2011.

“Artinya 62 persen saham-saham yang ditransaksikan di BEI yang mencapai 517 emiten masuk dalam daftar efek syariah,” ujar Direktur Pengembangan PT BEI, Nicky Hogan kepada pers dalam Workshop wartawan pasar modal di Padang, Senin (5/10/2015).

Dari sisi kapitalisai pasar,  saham syariah telah mengambil porsi sebesar 56 persen  dari total kapitalisasi pasar bursa.

Nicky menyebut setidaknya ada 100 emiten yang sahamnya sesuai prinsip syariah dalam lima tahun terakhir, atau 20 saham per tahun. Dari sisi  fasilitator perdagangannya, sebanyak delapan perusahaan efek anggota bursa (AB) yang memiliki layanan Syariah Online Trading System (SOTS) dalam lima tahun terakhir yaitu PT Indopremier Sekuritas, PT KDB Daewoo Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, PT Panin Sekuritas, PT Phintraco Sekuritas dan PT Sucorinvest Sekuritas.

Nicky berharap hingga  akhir tahun  jumlah AB yang memiliki SOTS akan bertambah menjadi 11 AB.

“Saat ini ada tiga AB yang mengajukan izin untuk layanan SOTS dan ditargetkan live tahun ini, tapi nama-namanya belum bisa saya sebutkan,” imbuhnya.

Selain itu, ada empat bank yang sedang mengajukan izin sebagai bank pengadministrasi transaksi syariah.

Nicky menambahkan BEI saat ini memang sedang gencar mengembangkan pasar modal syariah, ini sesuai dengan program Otoritas Jasa Keuangan yang menjadikan tahun ini sebagai tahun pasar modal syariah.

Terkait itu hampir semua program sosialisasi dan edukasi pasar modal yang dilakukan menempel program sosialisasi syariah.

Perkembangan menggembirakan juga terlihat dari jumlah investor yang benar-benar melakukan transaksi syariah di pasar saham.

Bila beberapa tahun lalu, hanya terdapat 2.700 investor syariah, maka hingga pertengahan tahun 2015 jumlahnya meningkat sekitar 20 persen atau sudah mencapai 3.400 account.

Angka ini menurut Nicky diperoleh dari laporan AB yang memiliki SOTS. Di masa datang BEI menurutnya akan meminta AB memberikan data detail tentang profil nasabah mereka yang berinvestasi syariah sebab saat ini pasar modal belum memiliki single investor identity khusus syariah yang bisa melihat jumlah maupun profil nasabah syariah.

“Jadi intinya image masyarakat terhadap produk pasar modal yang dianggap gambling atau spekulatif sudah seharusnya dihilangkan sebab pasar modal punya sekian banyak produk yang sudah syariah. Masalah utamanya hanya sosialisasi dan edukasi  yang harus giat dilakukan,” tandasnya. (wh)