Agustus 2017, Nilai Tukar Nelayan Jatim Naik 0,75 Persen

Agustus 2017, Nilai Tukar Nelayan Jatim Naik 0,75 Persen

Nilai Tukar Nelayan (NTN) Jawa Timur bulan Agustus 2017 naik sebesar 0,75 persen dari 123,23 pada bulan Juli 2017 menjadi 124,16 pada bulan Agustus 2017.

“Kenaikan NTN ini disebabkan karena indeks harga yang diterima nelayan naik sebesar 0,25 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar nelayan turun sebesar 0,50 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPSJatim Teguh Pramono, Senin (4/9/2017)

Ada sepuluh komoditas utama yang mengalami kenaikan terbesar indeks harga yang diterima nelayan adalah ikan teri, udang, ikan swanggi, ikan lemuru, rajungan, ikan kembung, ikan tenggiri, ikan tembang, kepiting laut, dan ikan belanak. Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang diterima nelayan adalah ikan layang, ikan cakalang, ikan kuniran, ikan tongkol, ikan layur/beladang, remis, ikan bawal, cumi-cumi, ikan ekor kuning, dan ikan pari.

Selain itu, kata Teguh, pihaknya juga mencatat ada sepuluh komoditas utama yang mengalami kenaikan terbesar indeks harga yang dibayar nelayan adalah uang bayaran sekolah SD, garam hancur, sawi, es batu, rokok kretek, oli pelumas, umpan, penyedap masakan, upah membersihkan kapal dan mie instan.

“Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang dibayar nelayan adalah bawang merah, cabai rawit, bawang putih, tomat sayur, sewa perahu tanpa motor, cakalang, gula pasir, jeruk, ikan selar, dan lada atau merica,” kupas Teguh.

Perkembangan NTN bulan Agustus 2017 terhadap bulan Desember 2016 (tahun kalender) mengalami kenaikan sebesar 7,04 persen. Adapun perkembangan NTN bulan Agustus 2017 terhadap bulan Agustus 2016 (year-on-year) mengalami kenaikan sebesar 8,99 persen.

Dari enam provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan NTN pada bulan Agustus 2017, terdapat empat provinsi yang mengalami kenaikan NTN dan dua provinsi yang mengalami penurunan NTN. Kenaikan NTN terjadi di Provinsi Jawa Tengah sebesar 1,02 persen, Provinsi Jawa Timur sebesar 0,75 persen, Provinsi DKI Jakarta sebesar 0,21 persen dan Provinsi DI Yogyakarta sebesar 0,05 persen.

“Adapun provinsi yang mengalami penurunan NTN adalah Provinsi Jawa Barat sebesar 0,30 persen, dan Provinsi Banten sebesar 0,45 persen,” tegasnya. (wh)