Advokat Senior Trimoelja D. Soerjadi Berpulang

Advokat Senior Trimoelja D. Soerjadi Berpulang

Monang Siringo-ringo, Hotman Siahaan, Adnan Buyung Nasution, dan Trimoelja D. Soerjadi dalam peluncuran buku Manusia Merdeka, Sebuah Memoar.di Hall Hotel Mercure-Grand Mirama, Surabaya, Minggu (23/2/2014).foto:arifin bh/enciety.co

Innalillahi wainnailaihi roji’un. Advokat senior Trimoelja Darmasetia Soerjadi tutup usia. Pria  kelahiran Surabaya, 7 Januari 1939 itu, meninggal dunia pada Kamis (17/5/2018) pukul 06.30 WIB.

Hubungan saya dengan Trimoelja terjalin akrab sejak tahun 2005-an, ketika beliau ditunjuk sebagai anggota Board of Surabaya Academy, sebuah lembaga nirlaba bentukan Radio Suara Surabaya dengan lembaga riset Enciety Business Consult.

Anggota board itu sendiri terdiri 12 orang, masing-masing:  Soetojo Soekomihardjo (Ceo Radio SS-sudah almarhum), Ali Maschan Moesa, Herman Halim, Liem Ou Yen, Krenayana Yahya, Johan Silas, Hotman Siahaan, Errol Jonathans (sekarang CEO Radio SS), Nalini M. Agung, Sirikit Syah dan terakhir masuk Trimoelja menggantikan salah seorang anggota board yang berhalangan tetap.

Board of Surabaya Academy memberikan penghargaan berupa Surabaya Academy Award (SAA) kepada tokoh berprestasi melalui beberapa kali penyaringan dan diskusi. Tidak jarang penerima penghargaan SAA bukan orang-orang terkenal, tetapi karena kemandirian dan dedikasinya telah menginspirasikan masyarakat dan memberi solusi kongkret untuk membangun Surabaya sebagai kota yang bermartabat.

Ada beberapa kategori pilihan, misalnya tentang lingkungan hidup, pendidikan, dan kategori board preference. Dalam pemilihan dan penyaringan harus dapat mengelola konflik kepentingan yang muncul di antara pribadi-pribadi anggota board. Di sinilah prefesionalitas mereka diuji. Satu sama lain meskipun saling adu argumentasi, pada akhirnya kata sepakat harus didapat.

Trimoelja D. Soerjadi merupakan advokat kawakan Indonesia yang kerap menyebut dirinya sebagai pengacara pedesaan. Dia lebih memilih berkarier dari kota kelahirannya di Surabaya selama 50 tahun lebih meskipun berbagai tawaran dan kesempatan pernah mampir mengajaknya ke Jakarta.

“Saya ini kan dilahirkan dan dibesarkan di Surabaya. Saya ini bonek asli. Saya tidak boleh lupa asal usul saya.” Kalimat yang sering disampaikan kepada awak media.

Setelah berjuang menghadapi sakit infeksi paru-paru, Pak Tri,begitu sapaan akrabnya, menghembuskan napas terakhir di usianya yang ke-79, tepat di hari pertama puasa Ramadhan 1439 H.

Selamat jalan Pak Tri. Semoga segala amal baiknya diterima Tuhan Yang Maha Esa. (wh)

Berikan komentar disini