Adidas Tunda Relokasi Pabrik ke Majalengka

Adidas Tunda Relokasi Pabrik ke Majalengka
foto:voanews.com

Beberapa industri di Jakarta dan sekitarnya hingga saat ini masih menilai Upah Minimum Provinsi (UMP) yang ditetapkan oleh gubernur masing-masing terlalu tinggi. Hal inilah yang menjadi keluhan para pelaku industri, terutama yang padat karya, termasuk salah satunya pabrik sepatu olahraga bermerek Adidas, PT‎ Panarub Industry.

Chairman Panarub, Hendrik Sasmita ‎menceritakan dengan tingginya UMP tersebut dirinya ingin melakukan relokasi pabriknya ke wilayah lain di Indonesia yang memiliki UMP lebih rendah.

“Di sini itu tidak masuk akal, tidak masuk hitungan bisnis. Sebenarnya saat itu ingin relokasi ke Majalangka atau Brebes,” katanya.

Keinginan Adidas untuk pindah ke dua wilayah tersebut dikarenakan dua kota itu UMP masih sekitar US‎D 100 per bulan, sementara di Jabodetabek sudah di atas USD 200 per bulan. Sayangnya, Hendrik terpaksa menunda keinginannya tersebut setelah melakukan perhitungan yang matang, di mana jika ingin melakukan relokasi pabrik Adidas membutuhkan dana yang cukup besar.

“Aset kita itu sekitar USD 75 juta, sementara setelah kita hitung kalau mau pindah itu butuh USD  80 juta,” tegasnya.

Biaya tersebut dijelaskan Herman paling banyak nantinya akan dialokasikan ke para pekerja Adidas, di mana dengan jumlah UMP di atas USD 200 akan membutuhkan biaya pesangon yang cukup besar.

Dari hasil pengelamannya berbisnis industri padat karya di Indonesia selama puluhan tahun, ‎Hendrik menilai selama ini kurang ada dukungan dari pemerintah dalam meningkatkan daya saing jika UMP terus dinaikkan.

“Kalau kita ditawari investasi, itu kan harus punya strategi keluarnya, kalau industri padat karya di Indonesia itu terus terang tidak ada exit strateginya, jadi berkembang juga tidak, mati juga tidak,” cerinta dia.

Sebagai seorang pengusaha, Hendrik berharap kepada pemerintah baru nantinya untuk lebih berpihak kepada pelaku Industri dan memberikan beberapa insentif untuk dapat meningkatkan ekspor. (lp6/ram)