A-Z Mengenai Devaluasi Yuan China dan Dampaknya

A-Z Mengenai Devaluasi Yuan China dan Dampaknya
foto: forbes.com

Pemerintah  China telah mendevaluasi mata uangnya sebesar hampir 2 persen terhadap dolar AS. Langkah tak populer ini dilakukan  untuk mendongkrak ekspor dan menjadikan Yuan sebagai salah satu mata uang cadangan global yang resmi.

Berikut beberapa hal yang mungkin perlu Anda ketahui tentang kebijakan Bank Sentral China ini dan kemungkinan dampaknya bagi perekonomian global.

Kenapa Beijing melakukan tindakan itu sekarang?
Menurut data yang dirilis akhir pekan lalu, ekspor China  turun 8,3 persen bulan Juli, penurunan terbesar dalam empat bulan terakhir dan jauh lebih buruk dari dugaan semula. Penurunan ini merupakan sebuah titik nadir dan otoritas setempat mendapat tekanan internal yang kuat untuk mengatasi kelesuan ekonomi dengan perubahan kebijakan yang dramatis.

Mengapa fokusnya pada nilai mata uang?
Dolar makin melejit sepanjang tahun lalu karena ekspektasi bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan suku bunga patokan yang pertama kali sejak krisis finansial terakhir. Karena pergerakan Yuan terhadap dolar AS relatif longgar, nilainya ikut terseret naik, dan tingkat diferensialnya relatif sama dengan dolar, namun justru membuat harga barang-barang negara itu lebih mahal dibandingan para pesaing regional khususnya Korea Selatan dan Jepang. Hal itu menjadi pukulan keras buat ekspor China. Sekarang ini, bank sentral AS atau US Federal Reserve makin dekat untuk meningkatkan suku bunganya yang pertama kali dalam tujuh tahun, sehingga berpotensi membuat dolar makin naik, yang dari sudut pandang  China akan membuat situasi lebih buruk.

Apa tepatnya yang telah dilakukan Bank Sentral China?
The People’s Bank of China menetapkan “tingkat referensi” nilai Yuan harian sebesar 6,2298 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya 6,1162 Yuan – artinya melemah 1,86  persen. Ini merupakan pelemahan terbesar sejak  China mereformasi sistem mata uangnya pada 2005. Ketika itu,  China menghentikan kebijakan nilai tetap (peg) Yuan, yang memiliki nama lain renminbi (RMB).

Bank Sentral mengatakan akan memperluas kriteria yang dipakai dalam menghitung penetapan nilai harian — yaitu tingkat yang menentukan nilai mata uang setiap pagi dan secara teori diperbolehkan naik turun dalam rentang 2 percentage points, meskipun pada praktiknya rentang itu jauh lebih kecil.

Bagaimana kebijakan ini bisa menolong perekonomian China?
Perusahaan-perusahaan  China menghadapi persaingan regional untuk memasok dunia dengan banyak barang mulai dari baja mentah sampai lemari es, dan Yuan yang lebih rendah nilainya akan membuat ekspor China  lebih murah. Hal itu bisa mendorong ekspor yang menjadi mesin utama pertumbuhan negara tersebut dalam tiga dekade terakhir. Kendali atas mata uang telah memberi perusahaan China  tingkat predictabilityyang tinggi ketika mereka merencanakan investasi pada industri yang sangat tergantung pada ekspor.

Kenapa kebijakan ini disebut bisa membantu Yuan sebagai mata uang cadangan?
Dalam kebijakan reformasi 2005,  China mengincar untuk menjadikan Yuan masuk dalam mata uang cadangan Dana Moneter Internasional (IMF). Namun kendali atas Yuan menjadi penghalang mata uang itu masuk dalam kelompok yang sekarang dihuni dolar AS, Euro, Poundsterling dan Yen. Langkah Bank Sentral untuk memperbanyak informasi ketika menetapkan nilai harian bisa dianggap sebagai pelonggaran kendali mereka, sehingga bisa lebih memenuhi syarat IMF. Bulan ini badan dunia tersebut mengatakan perlu tindakan signifikan kalau Yuan ingin menjadi pertimbangan IMF pada pertemuan November nanti.

Apakah devaluasi ini bisa memuluskan jalan ke IMF?
Liu Dongmin, direktur riset keuangan inetrnasional di Chinese Academy of Social Sciences, mengatakan: “Penyesuaian yang wajar atas nilai RMB bagus untuk ekspor  China dan juga bagus bagi RMB untuk bisa menjadi bagian SDR (special drawing rights di IMF). Namun yang paling penting, langkah ini merupakan kemajuan utama dalam nilai tukar RMB sejak 2005 dan merupakan langkah besar bagi nilai jual RMB.” Meski demikian, tujuan lama Beijing untuk mewujudkan nilai tukar mata uang yang bebas masih jauh dari kenyataan.

Bagaimana dengan reaksi Amerika Serikat?
Devaluasi bisa membuat marah AS, yang selalu berpendapat bahwa nilai Yuan sudah terlalu rendah (undervalued) dan mengganggu ekspor AS. Ini juga bisa memaksa negara-negara Asia lainnya untuk mendevaluasi mata uang mereka, agar ekspor ke AS lebih murah dan makin meningkatkan defisit perdagangan AS.

Apa dampak lain selain ekspor barang dan jasa murah dari  China?
Bank Sentral di AS dan Inggris mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga demi mencegah peningkatan inflasi. Barang-barang murah dari China akan mengurangi tekanan inflasi dan menjaga suku bunga tetap rendah dalam jangka waktu lebih lama. Namun dampak yang tidak diinginkan adalah terjadinya “ekspor pengangguran” (export of unemployment), karena Beijing membatasi tenaga kerja asing untuk melindungi perekonomiannya.

Kenapa mata uang  China punya dua nama?
Ini sama seperti kalau kita melihat pound dan sterling. Renminbi adalah nama resmi mata uang China, dan artinya memang mata uang rakyat. Yuan, seperti halnya pound, adalah nama salah satu unit mata uang itu. (bst)