903 Hektar Lahan Puso Jatim Akibat Kekeringan dan Banjir

 

903 Hektar Lahan Puso Jatim Akibat Kekeringan dan Banjir

Lahan pertanian gagal panen alias puso karena kekeringan maupun kebanjiran mencapai 903 hektare. data Dinas Pertanian Jatim, dari total luas tanaman padi yang puso, 533 ha di antaranya akibat kekeringan dan 370 ha akibat terendam air. Semua yang tergolong puso memiliki kerusakaan tanaman di atas 75 persen.

“Kami sudah prediksikan ini sehingga telah disediakan bibit untuk meringankan beban petani saat musim tanam selanjutnya,” kata Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Wibowo Eko Putro, Senin (6/10/2014).

Dari lahan puso tersebut, potensi produksi gabah yang hilang akibat kekeringan 3.198 ton dan yang hilang akibat kebanjiran 2.220 ton.

Kendati terjadi puso, kata Eko, potensi kehilangan panen tersebut dinilai tidak akan mengganggu persediaan beras Jawa Timur. “Angka ramalan I dari BPS produksi gabah Jatim diprediksi 12,1 juta ton naik dari tahun lalu 12,04 juta ton tahun lalu. Surplusnya 4,2 juta ton setara beras,” ujarnya.

Produksi 12,1 juta ton tersebut, katanya, dihasilkan luas pertanaman padi 2,17 juta hektare. Sehingga bila diperbandingkan maka luasan lahan yang rusak kecil dibandingkan yang berproduksi. Adapun lokasi lahan yang mengalami kekeringan di antaranya tersebar di Bojonegoro, Lamongan dan Tuban. Daerah yang sama pada saat yang sama mengalami banjir luapan Bengawan Solo.

Ia menambahkan, kemungkinan puso selain faktor cuaca juga ada faktor lain seperti organisme pengganggu tanaman berupa hama. Untuk mengatasi puso tersebut, Pemprov Jatim menyediakan bantuan berupa benih cadangan pemerintah (CBP).

“CBP ini punya Pak Gubernur dan ini diberikan jika lahan memang puso. Untuk padi ada stok benih 12 ribu hektare dan jagung ada 1.666 hektare,” tutur dia seperti dilansir di laman kominfo.jatimprov.go.id.

Terkait produksi padi tahun 2014, Eko tidak berani mematok angka produksi lebih tinggi dibandingkan tahun 2013. Setidaknya produksi tahun ini tidak berbeda jauh dengan tahun lalu yakni di angka 12 juta ton. “Ya tidak jauh dari tahun lalu sekitar 12 juta ton. Jadi meskipun turun, tidak terlalu banyak,” imbuhnya.

Untuk tetap mempertahankan produksi pagi di angka 12 juta ton, Dinas Pertanian menggenjot di produksi bulan Januari-April yang produksinya sudah mencapai 6,2 juta ton. Produksi subround II bulan Mei-Agustus diprediksi mencapai 3,9 juta ton dan di Subround III bulan September-Desember diprediksi bisa mencapai 1,9 juta ton. (wh)