9 Produk UMK Pahlawan Ekonomi Dipatenkan

9 Produk UMK Pahlawan Ekonomi Dipatenkan

Pahlawan Ekonomi (PE) melakukan langkah strategis. PE mematenkan sembilan usaha kecil mikro (UMK). Kesembilan UMK tersebut merupakan pemenang PE tahun 2012.

Pematenan merek ini difasilitasi Pemkot Surabaya melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian Pemkot Surabaya ke Kantor Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) Depkum HAM.

Kesembilan merek yang dipatenkan tersebut adalah Anggrek Boga (kuliner), Moniqe Bakery (roti), Dapur Flamboyan (roti), Sus Akwan (kue), Fish-Q (olahan ikan), Mak Cling! (sabun cair), Kampung Pernak-Pernik (kain taplak), Prima Batik (kain batik), Chawaty Collection (baju).

Ketua Steering Committee (SC) PE Bagus Supomo mengatakan, proses pengajuan hak paten tersebut untuk membentengi adanya tindak pemalsuan merek. “Insya Allah, akhir tahun ini semuanya sudah kelar. Kami bisa segera berikan kepada pelaku UMK branding dagangannya sudah dipatenkan,” katanya.

Kata Bagus, kesembilan merek tersebut dipatenkan setelah melalui seleksi yang ketat terhadap ratusan produk UMK PE pada 2012 lalu. Upaya mematenkan merek dagang UMK tersebut sangat diperlukan untuk memberikan kepastian hukum produk khususnya dalam hal perlindungan yang menyangkut model, rasa, dan bentuknya.  “Kita juga ingin memberi citra positif bagi UMK Pahlawan Ekonomi,” papar direktur eksekutif Surabaya Hotel School ini.

Dengan pematenan itu, terang Bagus, diharapkan bisa mendorong UMK untuk membuat produk-produk berkualitas. “Jadi,produk UMK Pahlawan Ekonomi akan terlindungi. Siapa saja yang menyalahgunakan model, rasa, maupun bentuk dari produk UMK  Pahlawan Ekonomi bisa dikenakan sanksi pidana,” katanya.

Lukman Hakin, anggota SC PE lainnya, menambahkan, pematenan produk UMK ini sebagai upaya untuk melebarkan jangkauan pemasaran. “Kami juga ingin mengedukasi dan memberikan kesadaran kepada pelaku UMK akan pentingnya mematenkan produk. Jangan sampai kreativitas dan inovasi yang telah dilakukan kemudian ‘lenyap’ lantaran telah dilegalisasi pihak lain,” ujar dia.

Dikatakan Lukman, sampai sekarang banyak pelaku UMK kurang peka dan memberi perlindungan terhadap produknya. Ini membuat banyak banyak dari produk-produk Indonesia, khususnya produk-produk yang memiliki nilai tradisional yang ide-ide dan desainnya, ‘dicuri’ oleh pihak luar.

“Yang penting lagi, pelaku UMK tidak menyadari bahwa perlindungan HKI membawa nilai ekonomi yang tinggi apabila sudah masuk dalam dunia perdagangan,” tandas dia.

Kepala Disperindag Surabaya Widodo Suryantoro  menegaskan, para pelaku UMK di Surabaya kini tak perlu khawatir. Seiring dengan pengembangan UMK di Surabaya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan izin merek akan digratiskan.

“Pembebasan biaya tersebut merupakan upaya kongkret Pemkot Surabaya mendorong para pelaku usaha mikro kecil,” katanya kepada enciety.co.

Widodo menegaskan, pihaknya mengakomodasi kemudahan yang berkaitan dengan pembebasan biaya pengurusan merek ke Kementerian Hukum dan HAM.

Widodo merinci beberapa syarat yang wajib dipenuhi sebelum mengajukan ke Disperindag bidang Perdagangan. Antara lain, logo produk, tanda daftar industri (bagi Industri Kecil Menengah), dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).

Usai didaftarkan ke Kemenkumham, para pelaku UMK harus bersabar. Sebab, merek baru akan keluar 1,5 tahun kemudian. “Memang prosesnya agak lama, karena diperlukan masa sanggah,” papar Widodo. Masa sanggah yang dimaksud ialah Kemenkumham mengumumkan calon merek yang sedang didaftarkan agar tak dobel dengan merek existing.(wh)