9 Elemen Bisnis Dorong UMKM Meroket

9 Elemen Bisnis Dorong UMKM Meroket

Luhur Budijarso berikan masukan kepada UMKM agar meningkat di pelatihan pejuang muda Surabaya, Sabtu (25/2/2017). foto: sandi nur/enciety.co

Jangan remehkan peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Bisa dikata, mereka sesungguhnya pahlawan    ketahanan ekonomi bangsa.   Setidaknya, tilik data yang dirilis Kementerian Koperasi.  Sampai saat ini, tercatat sebanyak 57,9 juta pelaku UMKM di Indonesia. Dari sebanyak itu, mereka mampu menyediakan lapangan kerja hingga 96,9 persen.  Demikian poin penting yang disampaikan senior consultant enciety, Luhur Budijarso saat memberikan paparan kepada ratusan peserta pelatihan pejuang muda Surabaya di Kaza City Mall, Sabtu (25/2/2017). “UMKM memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia.  Mereka berkonribusi sekitar 60,34 persen dari PDB,” katanya.

Namun Luhur mengaku heran dengan banyaknya UMKM yang perannya begitu penting bagi bangsa Indonesia namun mengapa tetap kecil dan belum bisa besar meraih pasar. “Sebagian besar bahkan mati suri. Sulitkah mengembangkan usaha,” ujarnya.

Untuk menuju UMKM yang besar, Luhur memaparkan ada 9 elemen bisnis yang diperlukan dan dipelajari untuk membuatnya menjadi besar dan bersaing. Yang pertama yaitu mitra atau rekanan terdiri dari pemasok suplier atau vendor. Ke dua adalah kegiatan utama yaitu produksi dan perdagangan dan ke tiga sumber daya utama bahan baku dan proses.

Ke empat, apa yang ditawarkan barangnya atau produk yaitu untuk menjawab kebutuhan memiliki perbedaan dengan opsi lain atau dengan pesaing. Ke lima dengan cara apa hubungan dibangun. Ke enam melalui jalur apa, dimana dan dengan apa yang dijangkau.

Ke tujuh konsumen yang disasar berdasarkan demografis, psikografis dan gaya hidup. “Pelaku UMKM hari mengetahui apa yang menjadi trend di pasar dan siapa yang akan disasar atau dituju penjualannya,” bebernya.

Untuk ke delapan, Luhur menyatakan sebuah UMKM harus bisa mengetahui berapa biayanya membuat produk. Yang terdiri dari biaya produksi, penjualan dan distribusi. Ke sembilan dapat berapa dan dari apa saja pemasukan dari penjualan dan penetapan harga jual (kompeitif, cost-plus). “Terkadang produknya laris tetapi pendapatannya tidak bisa naik. Ini yang harus dicari penyebabnya,” ujarnya.

Ditempat yang sama direktur EBC, Dodi Madya Judanto mengatakan sebaiknya pelaku UMKM harus benar-benar menerapkan pembukuan laporan keuangan.

Jangan sampai merasa produknya besar tetapi tidak rapi untuk melakukan laporan keuangan, hal tersebut membuat tidak mengetahui pendapatan dan pengeluaran.

“Ada yang membuat pia Rp 800 perbiji dan banyak memenuhi permintaan warung. Ternyata dia tidak menghitung ongkos produksi atau tenaga tetapi hanya ongkos pembelian bahan saja. Yang untuk warungya, buktinya dia bisa jual ke pengunjung Rp 1.500 per bijinya,” kata Dodi. (ram)