Memprihatinkan, 84 Satwa KBS Cacat, 40 Sangat Tua

Memprihatinkan, 84 Satwa KBS Cacat, 40 Sangat Tua
Ringgo, harimau Sumatera satwa koleksi KBS, mengalami gangguan nafsu makan sehingga tubuhnya terlihat amat kurus.

Daftar pekerjaan rumah yang harus diselesaikan PD Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (KBS), bakal masih panjang. Selain mengungkap misteri kematian Michael, singa Afrika yang mati tak wajar 7 Januari 2014 lalu, pengurus baru memiliki tanggungan puluhan hewan yang kondisinya buruk. Dari 3.459 ekor satwa koleksinya, terdapat 84 ekor satwa yang masuk kategori cacat dan sakit. Sementara 40 ekor di antaranya dalam pengamatan serius.

“Kondisi 40 hewan itu cukup parah dan sedang mendapatkan perawatan intensif dari kami. Keadaan tersebut sudah terjadi sejak kami (pengurus KBS yang baru, Red) mengambil alih pengelolaan per 15 Juli 2013,” ungkap Direktur Utama PDTS KBS, Ratna Achjuningrum saat jumpa pers di Kantor Pemkot Surabaya, Selasa (28/1/2014).

Sebelum PDTS, pengelola KBS ialah Tim Pengelola Sementara pimpinan Tony Sumampau, dengan beberapa elemen dari pihak Kementerian Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), dan Pemkot Surabaya.

Ratna menampik jika kondisi satwa yang memprihatinkan itu akibat kelalaian PDTS. Ia lantas menyebutkan beberapa keadaan satwa yang cukup parah.

“Ada gajah Sumatera betina, namanya Hilir. Usianya 24 tahun betina. Selain sudah tua, mata kanannya sakit dan berselaput,” jelasnya.

Lalu ada Candrika, seekor harimau putih berumur 16 tahun. Kondisi lidah Candrika sudah tidak normal, sering tergigit oleh taringnya sendiri. Sehingga berdampak pada penurunan nafsu makannya.

“Nafsu makannya sudah menurun menjadi 3 kilogram daging per hari, malah sekarang hanya mau makan 1 kilogram. Akibatnya, tubuh Candrika luar biasa kurus,” imbuhnya.

Lain lagi dengan Angeli. Angeli adalah seekor singa Afrika betina yang harus berjalan sempoyongan karena mengalami kelainan pada pinggul kanan belakangnya. Celeng goteng, beruang madu, kuda nil, dan komodo juga menderita kondisi yang beragam.

“Sekitar 33 burung juga dalam kondisi cacat dan sakit, termasuk 3 merak biru dan 10 jalak bali,” terangnya.

Meskipun begitu, PDTS KBS tak lantas menelantarkannya. Kendati saat pertama kali mengelola pihaknya sudah mendapati berbagai satwa tua dan cacat, pihaknya tetap memberikan perawatan maksimal. Upaya yang dimaksud berupa pemberian obat, vitamin dan makanan yang berkualitas.

“Secara triwulan, kami juga rutin memberikan laporan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA),” ujarnya.(wh)