800 Karyawan HM Sampoerna Akan Dirumahkan

800 Karyawan HM Sampoerna Akan Dirumahkan

 

Perusahaan rokok PT. HM Sampoerna Tbk akan merumahkan sekitar 800 buruh akibat tekanan produksi rokok menyusul penurunan omset.

Wali Kota Malang Moch. Anton menguraikan para buruh itu pensiun dini. “Penawaran pensiun dini yang akan dilakukan Sampoerna ini tidak serta-merta pengurangan karyawan saja, dalam artian pihak perusahaan masih memperhatikan nasib para karyawannya. Mereka nantinya akan diberikan pelatihan khusus dan akan diberikan uang pesangon sekitar Rp100 juta per orang,” urai Anton dikutip dari situs resmi Pemkot Malang, Minggu (16/3/2014).

Anton mengutip manajemen Sampoerna menguraikan pengurangan karyawan karena perusahaan mengalami penurunan omset akibat penggunaan peralatan mesin.

Mengatasi dampak peningkatan pengangguran, Pemkot Malang siap membantu mereka melalui Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya). “Melalui Posdaya ini, para buruh juga akan diberikan pelatihan dan bantuan modal,” tambahnya.

Dengan bantuan dan arahan serta bimbingan dari kalangan akademisi, program-program Posdaya akan berjalan maksimal.

Tahun 1998 merupakan masa penting dalam perjalanan bisnis Putera Sampoerna dimana keluarga Putera Sampoerna memutuskan untuk menjual menjual seluruh saham keluarga Sampoerna di PT HM Sampoerna Tbk (40 persen) ke Philip Morris International/PT Dji Sam Soe. Pengumuman akuisisi itu mengejutkan pihak-pihak internal (Karyawan HM Sampoerna) dan eksternal Perusahaan (investor, dan pengamat ekonomi, dimana keputusan untuk menjual bisnis keluarga yang telah dirintis sejak 1913 dinilai berbagai kalangan merupakan langkah bisnis Putera Sampoerna yang sangat beresiko tinggi, mengingat selama ini HM Sampoerna merupakan sumber utama pendapatan dari keluarga Sampoerna bahkan pada saat dijual kinerja perusahaan sangatlah baik.

Kinerja HM Sampoerna kala itu (2004) berhasil memperoleh pendapatan bersih Rp15 triliun dengan nilai produksi 41,2 miliar batang dan menduduki posisi pertama perusahaan rokok yang menguasai pasar, yakni menguasai 19,4 persen pangsa pasar rokok di Indonesia, di atas Bentoel Group (no. 2) dan Nojorono (no. 3). Hingga saat ini alasan Putera Sampoerna dan keluarga untuk melakukan penjualan tersebut tidak diketahui dengan jelas. (bh)