80 Dokter Mata FK Unair Sisir Kota Tua Surabaya

80 Dokter Mata FK Unair Sisir Kota Tua Surabaya

Para dokter mata FK Unair berfoto di Gedung Singa. foto:ist foto:begandring

Sebanyak 80 dokter yang mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Unair menyisir Kota Tua Surabaya (Soerabaia Old City), Minggu (16/1/2022) pagi.

Mereka mengikut program Surabaya Urban Track (Subtrack). Program yang digelar secara periodik oleh Perkumpulan Begandring Soerabaia yang concern mengkaji sejarah dan budaya.

Wakil Wali Kota Surabaya Ir Armuji MH yang membuka acara, sangat mengapresiasi kegiatan ini. “Saya sudah beberapa kali menyisir Kota Tua Surabaya ini. Banyak cerita menarik di balik gedung-gedung tua yang menjadi saksi bisu sejarah di Kota Pahlawan,” ujarnya.

Armuji mengaku sangat mendukung ide kreatif yang yang dicetuskan Perkumpulan Begandring Soerabaia dengan membuat wisata heritage. Apalagi kali ini diikuti para dokter dari FK Unair yang di tengah kesibukannya masih menyempatkan untuk jalan-jalan di Kota Tua Surabaya.

Kota Surabaya, terang Armuji, memang memiliki warisan yang kuat terkait nilai-nilai kepahlawanan dan kejuangan. Banyak peristiwa yang bisa diceritakan.

“Salah satunya tewasnya Mallaby. Hingga memicu puncak perang antara Arek-Arek Suroboyo dengan Inggris pada 10 November 1945. Kegiatan ini menjadi sarana edukasi yang bagus,” tandas Armuji yang datang bersama komunitas sepeda Surabaya.

Subtrack yang dibagi dua kelompok ini, mengambil rute perjalanan dari Jembatan Merah, kemudian menuju Kya-Kya, Taman Sejarah, Dermaga Kuno Kalimas, Gedung Cerutu, Gedung PTT (Telkom), dan Gedung Javaneschebank.

Selain itu, rombongan juga mengunjungi gedung apotek pertama di Soerabaia, gedung BCB Rajawali, rumah-rumah kuno abad 18-19 di Jalan Prenjak, Pabrik Siropen, dan Gedung Kuno Jalan Mliwis, Gedung nutsparbank, Gedung PTPN, dan Gedung Singa.

Achmad Zaki Yamani, koordinator Subtrack, mengungkapkan, selain Kota Tua Surabaya, pihaknya juga menggelar menyisir spot-spot bersejarah lainnya. Di antaranya, kawasan Peneleh yang melahirkan banyak tokoh nasional seperti Bung Karno, HOS Tjokroaminoto, Tan Malaka, dan lainnya.

“Respons masyarakat yang ikut kegiatan ini cukup besar. Kuota yang kami sediakan selalu habis sebelum event diselenggarakan. Ini sungguh di luar perkiraan kami,” kata dia.

Zaki mengungkapkan, para peserta Subtrack berasal dari berbagai kalangan. Di antaranya dari pengusaha, akademisi, legislator, praktisi, sosialita, dan lainnya.

“Kami sedang mengumpulkan pendapat dari peserta terkait dengan objek-objek yang pantas dikunjungi. Ke depan, kami sudah merancang program baru yang lebih menarik lagi,” pungkasnya. (*)