60 Investor Tinjau Lokasi MRT Surabaya

60 Investor Tinjau Lokasi MRT Surabaya
Agus Sonhaji (kanan) menjelaskan kepada beberapa investor yang berminat membangun MRT.

Usai dijamu makan malam, Selasa (17/12/2013) lalu, ke-60 investor asing dan lokal meninjau lokasi rencana pembangunan Surabaya Integrated Mass Rapid Transit (Smart) di Surabaya. Mulai Selasa (17/12) hingga Rabu (18/12), Pemkot Surabaya menggelar Market Sounding of Surabaya Monorail dan Tram Investment Project di Hotel Majapahit Surabaya.

Pada hari kedua ini, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko), Agus Imam Sonhaji memberikan paparan lebih detil mengenai SMART.

“Silakan Anda nanti langsung terjun ke lapangan, supaya bisa melihat potensi dan punya pandangan tersendiri. Kami berharap para calon investor yang tertarik berkompetisi bisa memberikan masukan atas rencana ini,” jelas Sonhaji.

60 perusahaan investor tersebut 40 persen di antaranya berasal dari dalam negeri dan sisanya berasal dari luar negeri, seperti Spanyol, Singapura, Korea Selatan, Thailand, Jepang, Malaysia dan China. Para calon investor yang datang antara lain ialah dari Alstrom Transports Indonesia, Marsh, Hyundai Rotem, UEM Group Berhard (Construction Contractor, len Raylways System, PT Inka, PT Arta Karya, PT Pasifik Energi Inkor, Waskita Karya, dan Daewoo Engineering and Construction Co.Ltd.

Usai paparan, para investor diajak berkeliling meninjau lokasi. Rute pertama kunjungan menuju Keputih (bekas TPA Keputih) yang direncanakan menjadi area depo monorel dan depo trem di Jalan Koblen. Selanjutnya menuju Stasiun Gubeng, Pasar Keputran, lalu berhenti sejenak di Terminal Joyoboyo. Terminal yang lokasinya dekat dengan Kebun Binatang Surabaya itu rencananya menjadi terminal inter moda.

Para investor juga diajak menelusuri jalur barat monorail yang melewati kantor Dinas Pariwisata dan kawasan TVRI Jalan Mayjend Sungkono. Pada dua lokasi tersebut, fasilitas park and ride akan dibangun.

Menurut Agus Sonhaji, tata guna lahan pada kunjungan lapangan ini dapat mewakili tata guna lahan sepanjang koridor Smart di Surabaya. Seperti kawasan pendidikan di Timur dan Barat Surabaya, lalu kawasan pertokoan dan perdagangan (central business district). “Juga kawasan  permukiman seperti Jalan Dharma Husada Idnah, Pakuwon City, Darmo Satelit dan wilayah pemukiman Surabaya Barat,” terang Agus Sonhaji.

Sebelumnya, Wali Kota Tri Rismaharini menjelaskan betapa angkutan massal cepat ini amat dibutuhkan warga Surabaya. “Selama ini, 70 persen warga kota Surabaya merupakan pemakai angkutan pribadi dan 30 persen pengguna angkutan massal. Harapannya, nanti itu bisa berbalik. Jika sudah begitu, macet akan terurai,” sambung Risma.

Ia mengklaim, adanya SMART akan efektif mengurangi kemacetan kota Pahlawan hingga 20 persen. “Tim kami sudah berupaya menghitungnya,” paparnya.(wh)