52 Gepeng Surabaya Dipulangkan ke Kampung Halaman

52 Gepeng Surabaya Dipulangkan ke Kampung Halaman

 

Pemkot Surabaya memulangkan 52 orang gelandangan dan pengemis (gepeng) ke 20 kabupaten/kota kampung halamannya, Kamis (3/4/2014). Mereka merupakan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang selama ini dirawat di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Keputih. Menggunakan 9 mobil, Wali Kota Tri Rismaharini melepas mereka langsung di Balai Kota.

Dari 52 orang PMKS tersebut, 37 orang merupakan gelandangan dan pengemis. Sisanya merupakan psikotik (orang yang mengalami gangguan jiwa). Kepulangan mereka dibagi berdasarkan kabupaten tujuan masing-masing.

Para PMKS tersebut dipulangkan usai dinyatakan ‘lulus’ untuk bisa kembali berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat. “Kita rutin melakukan ini (pemulangan PMKS, Red) setiap tahun. Tentunya kalau mereka sudah sembuh. Jadi tergantung kesiapan mereka,” ujar Risma.

Selama di Liponsos, mereka didampingi psikiater dan juga tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK). Sebelum dipulangkan, mereka menjalani pendampingan psikologi. Awalnya mereka susah diajak bicara dan sulit mengendalikan perilakunya. Namun perlahan kondisinya mulai membaik dan bisa beraktivitas normal.

Mereka juga dibekali keterampilan agar kelak bisa mandiri. “Mereka diajari keterampilan. Bikin keset, taplak, macam-macam. Itu produknya ada yang dipajang di dalam Balai Kota,” ungkap Risma.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Liponsos Keputih Sri Supadmi menambahkan, merawat para PMKS itu bukan pekerjaan yang mudah. Ketika ditemukan di jalanan, kebanyakan dari mereka merupakan psikotik yang sulit diajak bicara dan juga tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Bahkan, ada yang ditemukan tanpa sehelai benang pun melekat di badannya.

Sri menjelaskan, seorang PMKS harus sehat secara fisik dan sudah bisa ngomong dengan benar sebelum benar-benar dikembalikan ke daerah asalnya, “Maksudnya, ketika ditanya A ya jawabnya A. Kalau masih melenceng berarti belum stabil. Dan itu butuh proses, rata-rata bisa dua atau tiga bulan. Tapi untuk golongan psikotik bisa lebih lama,” ujar Sri.

Selama di Liponsos, mereka dibekali dengan berbagai pelatihan ketrampilan seperti membuat sulam pita, membuat taplak dan keset yang dilakukan setiap hari. Termasuk juga diikutkan dalam siraman rohani demi memulihkan mental mereka. “Sebagian ada yang sudah bisa berinteraksi dan bahkan memiliki tabungan dari hasil ketrampilan mereka,” tuturnya.

Jumlah penghuni Liponsos Keputih kini jauh melebihi kapasitas huniannya. Sekarang ini, jumlah penghuni Liponsos Keputih mencapai 1.204 orang. Padahal, kapasitas normalnya hanya 400 orang. Pemkot Surabaya mengupayakan penambahan ruangan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Termasuk melakukan penambahan tenaga pendamping.(wh)