50 Persen Ban Impor Barang Selundupan

50 Persen Ban Impor Barang Selundupan

 

Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) mengeluhkan pencabutan Generalized System of Preference (GSP) oleh pemerintah Amerika Serikat. Pasalnya, ini tak hanya berimbas kepada ekspor ban buatan RI melainkan juga pada kinerja impor.

Ketua APBI Azis Pane mengatakan secara umum AS memang pasar ekspor ban potensial seiring perkembangan industri otomotif yang ada. Pencabutan GSP sontak memukul bisnis negara-negara eksportir termasuk China, India, dan Indonesia.

“Karena tidak banyak ban dari Tiongkok yang masuk ke AS, pasar global di Eropa sedang lesu, maka ‘dibuang’ ke Indonesia. Tiongkok kena pajak lebih besar dari AS sekitar 7,5 persen,” tuturnya, Jumat (28/3/2014).

Hilangnya GSP yang juga dialami Tiongkok dan India membuat produsen di sana seolah melimpahkan produk ke Indonesia. Masalahnya, ban dari kedua negara itu tak datang lewat jalur resmi melainkan ilegal. Alhasil, sekitar 50 persen ban impor yang beredar merupakan barang selundupan.

Amerika tahun 2011 mencabut fasilitas pembebasan bea masuk –dikenal dengan sebutan GSP– bagi sejumlah produk dari Indonesia. GSP umumnya diberikan negara-negara maju kepada negara-negara berkembang untuk membantu daya saing ekspor mereka. Namun, pemerintah Indonesia minta Amerika tetap memberlakukan fasilitas GSP.

Azis Pane menyatakan selama Januari 2014 diproduksi sekitar 4,30 juta unit ban mobil. Realiasi produksinya di dalam negeri pada Januari 2014 turun tipis bahkan cenderung stagnan dibandingkan Desember 2013.

Penyusutan volume produksi si karet bundar di awal tahun ini sekitar 1,1 persen. (bns/bh)