5 Tips Mengolah Rasa Menjadi Karya

5 Tips Mengolah Rasa Menjadi Karya

Ilustrasi foto:ied.eu

“Saya ingin menulis. Tapi entah kenapa setiap kali menuangkan ide dalam tulisan selalu buntu?”

“Banyak ide sebenarnya yang berseliweran. Saat ngobrol, di jalanan, saat sedang melamun. Eh, saat berada di depan laptop, lha kok gak keluar-keluar. Bikin lead saja susahnya minta ampun.”

“Sebenarnya waktu terbaik untuk menulis itu jam berapakah?”

Begitu sederet pertanyaan dari sejumlah teman. Mereka yang berhasrat untuk menulis namun masih menemui kekakuan. Masih kurang percaya diri. Buntutnya, tulisan gak jadi-jadi.

Saya selalu membesarkan hati mereka. Jika yang mereka alami, juga seperti yang saya alami. Sangat manusiawi. Saya pun juga sering mampet. Gak punya ide untuk menulis.

Pun ketika menuangkannya, juga tidak selalu lancar. Tak bisa seperti luapan air bah. Mengalir deras. Saya juga sering berhenti menulis di tengah jalan. Tidak melanjutkan untuk beberapa saat.

Banyak orang bisa menulis atau melahirkan karya karena terdorong perasaan gelisah. Seperti halnya diakui Raditya Dika, komedian dan penulis buku-buku bestseller.

Radit, begitu sapaannya, menjadikan kegelisahan sebagai momen yang asyik dan paripurna untuk berkarya. Hampir semua materi stand up comedy Radit dilatarbelakangi oleh kegelisahan.

Kegelisahan, bagi Radit, adalah jembatan untuk mengayak pengalaman-pengalamannya. Dari yang satire, heroik, gokil, dan hal-hal yang sepele. Dia membagi kegelisan sebagai hal yang pantas dinikmati.

Dari gelisah, Radit bisa menjadi representasi anak-anak muda, khususnya kaum jomblo. Yang susah banget dapat cewek dan setiap malam minggu harus sendiri. Yang kerap jadi sasaran bully.

Didi Kempot (kini sudah almarhum) namanya tiba-tiba menjulang. Gara-garanya senandung lara yang hits. Dia mampu melahirkan karya-karya yang menyentuh. Hingga publik pun menjuluki dirinya sebagai The Godfather of Broken Hearts.

Meski puncak popularitasnya diraih pada usia 53 tahun, namun tembang-tembang yang dibawakan Didi Kempot bisa menembus relung hati anak-anak muda.

Lewat karya-karyanya, Didi Kempot juga bisa menyosokkan diri sebagai pria humble, tabah, dan mellow. Bisa dibilang a simple kind of man, lelaki yang sederhana.

Sebagai teman, saya meyakini pengalaman pahit hidupnya sebagai pengamen membuat dirinya bisa menciptakan karya-karya yang disukai banyak kalangan.

***

 5 Tips Mengolah Rasa Menjadi Karya
Image credit: ipopba | Getty Images

Saya juga terbiasa memanfaatkan kegelisahan untuk melahirkan karya. Akan tetapi, saya juga selalu berkobar-kobar untuk menulis ketika hati sedang berbunga-bunga.

Bagi saya, gelisah dan gembira seperti dua sisi mata uang. Berbeda namun tetap berada pada koin yang sama. Alamiah saja. Seperti keputusan kita untuk mencintai mencintai dan melepaskan.

Gelisah dan gembira itu bisa diciptakan. Bergantung dari kemauan dan kesungguhan kita mengolah rasa. Ketika memikirkan hal-hal yang tak pasti, Anda pun akan larut dalam kegelisahan mendalam. Kecemasan yang tak berujung.

Dan yang perlu diingat, kegelisahan tak selama memacu seseorang bisa melahirkan karya. Malah sebaliknya, bisa mengendurkan semangat, memupuskan tekad, dan membunuh harapan.

Pun ketika Anda menyandarkan beban dan meyakini semua masalah akan raib, tentu Anda bisa berpikir lepas. Merasakan jika masalah itu pasti lenyap dan ada jalan keluarnya. Meletakkan persoalan sesuai ukuran, bobot, dan kadarnya.

Ada beberapa tips mengolah rasa menjadi karya. Sebagian besar dari pengalaman pribadi.

1. Budaya rakus membaca

Tingkatannya bukan sekadar hobi. Jadi dasar dan spiritnya adalah memburu, bukan hanya mencari informasi. Seperti halnya semangat untuk melebihi, bukan hanya mencapai.

Rakus membaca dibutuhkan untuk membuat karya-karya bermutu. Karena aktivitas membaca mutlak dibutuhkan jika ingin mendapatkan perspektif yang luas.

Banyak hal yang bisa dilakukan bagi mereka yang rakus membaca. Di antarnya membaca buku-buku dari berbagai macam genre. Getol melakukan pencarian dan review buku, terutama di media-media mainstream.

Tokoh-tokoh hebat punya banyak waktu menghabiskan buku. CEO di Amerika Serikat rata-rata membaca 35 buku per tahunnya. Mark Zuckerberg (bos Facebook) membaca satu buku setiap dua minggu.

2. Berempati dengan lingkungan

Empati dibutuhkan untuk menciptakan suasana batin yang positif. Karena hal itu akan berdampak pada alam pikiran Anda. Dengan empati Anda akan memiliki kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan oleh orang lain secara langsung.

Berempati berati Anda mencoba menempatkan diri pada posisi orang lain. Ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Gak salah bila ada diktum begini, “Orang yang cerdas secara emosional berarti ia memiliki rasa empati dan kepedulian yang baik.”

Ketika saya meliput berita kriminal, saya selalu menjauhkan anak-anak dari para tersangka. Tidak ada hak bagi saya untuk menulis dan mengekspose mereka akibat dari perbuatan orang tuanya.

Begitu pula ketika ada insiden kecelakaan, saya berusaha membangun harapan. Suatu ketika, saya pernah menurunkan laporan kejadian yang berbeda. Jika biasanya judul berita mengungkap berapa banyak korban tewas, saya memilih memilih judul korban yang selamat.

Saya juga mendorong wartawan di lapangan untuk mencari orang-orang hebat yang berada di tengah insiden kecelakaan itu. Yang rela menghabiskan waktu dan meluangkan tenaga untuk menolong para korban.

3. Menjadi pendengar yang baik

Pergaulan itu penting. Bagi saya, banyak bergaul adalah salah satu kunci mendapatkan ide, wawasan, informasi dan pengetahuan. Kita akan mendapatkan banyak perspektif ketika mendekat dan mendengar pendapat orang lain.

Kebiasaan menjadi pendengar yang baik saya lakukan sejak dulu. Terlebih ketika bersama narasumber. Saya menjauhkan perdebatan ketika menjadi pewawancara.

Ketika menjadi pendengar yang baik, saya merasakan justru punya keleluasaan menggali apa yang dibutuhkan. Data, informasi, temuan, pengetahuan, dan lain sebagainya.

Hasil yang dituai juga jauh lebih baik. Tulisan lebih berbobot. Lebih mendalam. Data yang disajikan juga lebih komplet. Alur ceritanya bisa runtut dan berkarakter.

4. Mencatat dalam notes

Ada kebisaan kecil yang biasa saya lakukan untuk mengumpilkan ide dan gagasan agar tidak hilang. Yakni, mencatat dalam notes, buku saku. Kalau sekarang malah lebih mudah dengan smartphone.

Ketika berkendara, saya kerap memikirkan hal-hal yang bisa ditulis. Seketika itu, saya memilih untuk berhenti dan mencatat apa saya yang terlintas dalam pikiran saya.

Saya melakukan hal itu lantaran terinspirasi Eep Saefulloh Fatah. Pengamat politik UI itu punya kebiasaan menjaring ide dan gagasan dalam notes.

Eep mengaku sering mendapat ide ketika sedang nyetir mobil. Dia sering mendikte istrinya untuk mencatat apa saya yang terlintas di benaknya karena takut lupa.

5. Punya prime time yang konsisten

Ada teman bilang begini: menulis dipengaruhi faktor mood. Kalau suasana batinnya beku, emosi gak stabil, perasaannya lagi tak menentu, sulit menungkan dalam karya.

Okay, memang mood dibutuhkan. Tapi ada saatnya kita juga harus melawan mood yang jelek (bad mood). Artinya, kita tak bisa membiarkan perasaan kita larut dalam suasana batin yang buruk. Karena mood sendiri adalah keadaan emosional yang timbul hanya untuk sementara.

Banyak cerita dari pengarang, penulis, seniman yang tidak bisa berkarya karena bad mood. Karyanya tidak jelek, tapi tidak banyak. Pada akhirnya, kehidupan sosial ekonominya berantakan.

Dalam hal ini saya sepakat dengan Dewi Lestari, penulis perempuan yang banyak melahirkan karya-karya bestseller. Dee, julukan dia, punya waktu khusus untuk menulis. Punya waktu bermeditasi.

Dee menentukan kapan waktu menulis, kapan lagi off. Dia rela berhenti sejenak untuk menulis dan menyempatkan waktunya bersama keluarganya. Dee punya deadline. Punya target.

Begitu pun yang saya lakukan. Saya punya kebiasaan menulis setelah salat dhuha. Kemudian bergeser setelah salat tahajud. Artinya, ada prime time. Waktu yang paling favorit untuk menulis. (agus wahyudi)