5 Faktor yang Pengaruhi Kualitas Bangunan

5 Faktor yang Pengaruhi Kualitas Bangunan

Rico Chandra B, Sekretaris Jendral HAPI (Himpunan Aplikator Indonesia), Mochmad Soleh, Ketua Umum HAPI (Himpunan Aplikator Indonesia) dan Doddi Madya Judanto, Direktur Utama Enciety Business Consult dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (29/11/2019). foto: arya wiraraja/enciety.co

Ada lima faktor yang sangat mempengaruhi kualitas pengerjaan bangunan. Yakni, konsultan, penganggaran biaya pemilik pekerjaan, pemilihan material, pengerjaan, dan pengawasan.

Mohammad Soleh, Ketua Umum Himpunan Aplikator Indonesia (HAPI), menjelaskan jika dari kelima faktor tersebut pengerjaan sangat mempengaruhi kualitas pengerjaan bangunan.

“Hampir 70 persen kualitas banguan sangat dipengaruhi proses pengerjaan yang dilakukan aplikator. Kenyataan ini yang membuat kami sebagai Himpunan Aplikator Indonesia mengambil peran untuk membantu para aplikator meningkatkan kualitasnya lewat berbagai program pelatihan dan sertifikasi,” kata dia dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (29/11/2019).

Acara ini dipandu Direktur Utama Enciety Business Consult Doddi Madya Djudanto.

Selain memfasilitasi aplikator, sambung dia, pihaknya juga memiliki peran fasilitator kepada para penyelenggara dan pemilik proyek yang membutuhkan para aplikator yang telah tersertifikasi.

“Peran para aplikator ini sangat vital dalam pengerjaan sebuah proyek. Harapannya, kami ingin para aplikator ini bisa lebih berdaya dan menjadi para pengusaha walaupun pengusaha kecil,” cetus dia.

Doddi Madya Djudanto mengatakan, jika sektor konstruksi saat ini pertumbuhannya sangat cepat. Kurang lebih perkembangannya mencapai 5 persen per tahun.

Menurut dia, sertifikasi bagi para aplikator menjadi hal yang sangat penting. Karena aplikator memiliki peran yang sangat vital terhadap pengerjaan bidang konstruksi. Jika salah pengerjaan, maka hasilnya akan sangat membahayakan.

“Konstruksi bangunan adalah tempat di mana seseorang atau keluarga tinggal dan aktivitas. Dengan kata lain, konstruksi bangunan harus benar-benar aman, ” terang Doddi.

Terkait sertifikasi aplikator, Doddi mengatakan, ada dua faktor penting dan yang perlu dicermati. Yakni, kompetensi dan integritas.

Ke depan, kata dia, asosiasi semacam HAPI dapat menjadi asosiasi profesi, maka tahapan yang bakal ada adalah kode etik dan lain sebagainya.

Doddi percaya,  jika para aplikator dapat berkembang dan telah memiliki kompetensi, dunia konstruksi dapat lebih berkembang.

“Nah, terkait dengan hal itu, aplikator ini sangat erat hubungannya dengan kualitas produk konstruksi yang digunakan. Jika produk yang digunakan untuk konstruksi kualitasnya tidak sesuai dengan yang disarankan aplikator yang sudah bersertifikasi,  produk tersebut tidak layak digunakan. Nah kaitan dari hal-hal seperti inilah ke depan yang harus kita pikirkan,” ulas Doddi. (wh)

Berikan komentar disini