37 Desainer Dunia Unjuk Kebolehan di Surabaya

 

37 Desainer Dunia Unjuk Kebolehan di Surabaya
Arwin Sharma (tiga dari kiri) bersama panitia Asian Fashion Week 2014.

Peragaan busana bertaraf internasional untuk pertama kalinya akan diselenggarakan di Surabaya. Kegiatan bertajuk Asian Fashion Week (AFW) 2014 itu dijadwalkan akan diikuti 37 desainer dari 12 negara di Java Paragon Surabaya selama empat hari.

“Kami memilih Surabaya, karena surabaya adalah kota yang indah, nyaman, dan banyak negara telah melihat Surabaya sebagai tempat tujuan wisata,” terang President and CEO AFW 2014 Arwin Sharma kepada awak media di Balai Kota Jumat (8/8/2014).

Menurut Arwin, di Surabaya telah menjadi bagian dari kiblat perkembangan dunia fashion di Asia. Karena itu pihaknya lebih memilih Surabaya ketimbang Jakarta atau Bali. “Apalagi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sangat mendukung kegiatan ini,” ujarnya.

Direncanakan, 37 desainer tersebut berasal dari berbagai negara di antaranya Srilanka, India, Russia, Brunei Darussalam, Cameroon, Nepal, Australia, Bolivia, Mexico, Bangladesh, Vietnam, dan desainer dari dalam negeri, Indonesia.

“Dari indonesia sendiri terdapat lima desainer yang nantinya akan menampilkan berbagai busana tradisional dalam negeri,” akunya.

Nantinya, kegiatan yang digelar di dalam hHotel Java Paragon tersebut dimulai pada 15 hingga 18 Agustus mendatang. “Kami akan menggelarnya di luar ruangan,” tambahnya.

Dijelaskan Arwin, AFW sendiri sebelumnya telah digelar di empat negara Asia. “Pada 2011 kami menggelar di Guangzhou, Tiongkok. Kemudian, pada 2012 di Ho Chi Minh City, Vietnam, dan 2013 di Jepang. Surabaya adalah kota pertama di Indonesia yang dipercaya menjadi tuan rumah acara ini,” bebernya.

Arwin menargetkan acara ini akan dihadiri 400 audiens per hari. Dia juga berharap AFW memenuhi misi utama yang diusung. Yakni, mengintegrasikan mode para desainer dari seluruh penjuru Asia dan sejumlah negara lain. Sebab, esensi tata busana sudah harus dipahami secara universal. Artinya, tidak ada lagi sekat-sekat kultural dan pembatas lainnya.

“Kalau kita bicara tentang fashion, itu sangat universal. Meski, tetap ada unsur tradisional yang dimasukkan dalam tiap-tiap rancangan. Tapi, itu sifatnya memperkaya hasanah busana itu sendiri sehingga bisa juga sebagai alat pemersatu,” jelas dia.

Untuk menyemarakkan event tingkat internasional tersebut, rencananya dihadiri Miss India dan Miss Jepang. Sharma menyebut itu sebagai sejarah karena baru kali ini ada dua duta Asia yang datang sekaligus dalam satu event mode.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya Wiewik Widayati mengaku sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk mendukung kesuksesan acara ini. Salah satunya, bekerja sama dengan House of Sampoerna (HoS) untuk memberikan pelayanan city tour kepada para delegasi selama mereka berada di Surabaya.

“Intinya, kami mendukung dengan iven internasional tersebut. Diupayakan dengan adanya event-event seperti ini akan mendongkrak pandangan dunia terhadap Surabaya sebagai kota yang indah dan patut untuk dikunjungi,” senangnya. (wh)