3 Pesan Penting Pemuda Muhammadiyah untuk Khofifah-Emil

3 Pesan Penting Pemuda Muhammadiyah untuk Khofifah-Emil

Dikky Syadqomullah.foto:ist

Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jatim menyampaikan tiga pesan penting kepada Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak (Khofifah-Emil) yang resmi menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur, Rabu (13/2/2019).

Ketiga pesan tersebut adalah keberlangsungan Program Keluarga Harapan (PKH), keseriusan menggerakkan potensi anak muda kreatif, dan membangun kultur kolektif dengan semangat Jatim untuk semua.

Ketua PWPM Jatim Dikky Syadqomullah mengatakan, program PKH yang pernah dijalankan Khofifah sebagai Menteri Sosial diharapkan menjadi solusi dari permasalahan sosial yang dialami masyarakat.

“Tetapi, PKH akan menjadi muspro jika kesadaran dan tanggung jawab untuk mengentaskan kemiskinan secara supra-struktur tidak dibangun oleh Pemprov Jatim,” katanya.

Dia lalu menyatakan, ada kekhawatiran PKH Plus tersebut tidak tepat sasaran, rawan dipermainkan, dan rentan praktik korupsi. “Sehingga penting untuk memandirikan masyarakat oleh Pemprov Jatim,” tegas Kepala SMP Muhammadiyah 6 Surabaya ini.

Selanjutnya, kata Dikky, pemerintah harus serius dan fokus menggerakkan potensi anak muda kreatif.  Itu dilakukan dengan menstimulus kelompok milenial dengan program-program kreatif melalui usaha baru.

Menurut dia, hal itu merupakan suatu keharusan untuk meningkatkan geliat usaha serta mengurangi ketergantungan investasi eksktraktif, dan minerba yang menguntungkan secara ekonomis namun merugikan secara ekologis dan juga berdampak sosiologis.

“Menggerakkan startup dan industri kreatif yang dilakukan kelompok milenial akan meningkatkan kompetitif anak muda Jawa Timur agar siap mengarungi era pasar bebas ASEAN,” tutur pria yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya tersebut.

Terkait membangun kultur kolektif dengan semangat Jatim untuk semua, Dikky menjelaskan jika jalannya roda pemerintahan sangat bergantung pada kondusivitas masyarakat.

“Kondusivitas tersebut dapat terwujud jika Khofifah-Emil mampu menyisihkan simbol dan ego pendukungnya. Ini agar tidak terjadi konflik horizontal yang justru menjadi penghambat jalannya pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat Provinsi Jawa Timur,” papar dia.

Kata dia, Pemuda Muhammadiyah di Jatim dengan latar belakang generasi milenial akan selalu mendukung setiap kebijakan yang berpihak terhadap kepentingan dan kemajuan bagi masyarakat Jatim.

“Namun, di sisi lain kami juga akan sangat kritis dalam mengawal pembangunan,” pungkas dia. (wh)