3 Alasan Mengapa Indonesia Harus Mengganti Energi Fosil

3 Alasan Mengapa Indonesia Harus Mengganti Energi Fosil

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya

Peningkatan konsumsi energi di Indonesia belum dapat dikurangi karena seluruh kegiatan manusia saat ini tak lepas darinya. Kondisi ini juga sangat dipengaruhi adanya pertambahan penduduk dan perkembangan dunia, terutama energi fosil.

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya menjelaskan, ada tiga hal yang membuat Indonesia harus mulai memikirkan masa depan pengganti energi fosil. Pertama, jumlahnya terbatas. Kedua, dampak lingkungan seperti polusi yang ditimbulkan dari konsumsi energi fosil. Ketiga, perubahan industri yang saat ini terjadi.

Menurut dia, salah satu jalan keluar yang dapat diusahakan adalah dengan menggali potensi-potensi energi alternatif atau energi baru terbarukan yang mulai dikembangkannya, seperti bahan bakar etanol dan biodiesel 20 yang merupakan bahan bakar campuran dari kelapa sawit.

“Kondisi geografis Indonesia saat ini sangat memungkinkan untuk dapat mengembangkan energi baru terbarukan. Namun proses peralihan ke energi baru terbarukan sampai saat ini yang menjadi tantangan besar yang harus dihadapi,” ungkap dia dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (24/5/2019).  

Dalam acara itu juga dihadiri Galih Aji Wahana, Communication & Relation Section Head Pertamina MOR V, dan Dr. Hariyanto, Direktur Konservasi Energi, Ditjen EBTKE.

Kresnayana menegaskan, perpindahan konsumsi energi konvensional ke energi baru terbarukan membutuhkan biaya cukup tinggi. Namun dari upaya itu kita bisa lebih menghemat energi konvensional dan dapat menggunakan sumber-sumber energi baru terbarukan.

Dia lantas menyebut Kota Surabaya. Saat ini, di gedung-gedung Pemerintah Kota Surabaya telah memasang alat-alat panel surya. Memang biaya untuk memasang alat itu cukup tinggi. Namun dengan adanya alat itu, pemerintah kota bisa menghemat konsumsi listrik dari PLN di lingkungannya sebesar 30 persen.

“Hal ini bisa jadi contoh. Alat-alat panel surya yang mengubah energi panas matahari menjadi listrik itu bisa digunakan 25-30 tahun. Kalau dihitung kita bisa berhemat 25-30 tahun ke depan,” papar Bapak Statistika Indonesia itu. (wh)