2019, Supply Perkantoran Surabaya Naik 26 Persen

2019, Supply Perkantoran Surabaya Naik 26 Persen

Feri Salanto.foto:arya wiraraja/enciety.co

Kondisi supply properti perkantoran di Surabaya 2019 diprediksi makin meningkat. Angkanya mencapai 100 ribu meter persegi (naik sekitar 26 persen). Tahun 2020-2021, angkanya bakal tumbuh menjadi 35 persen.

“Angka tersebut dipengaruhi empat gedung perkantoran yang saat ini sedang dibangun di Surabaya. Yaitu Praxis, Spazio Tower, Voza Office dan Pakuwon Tower. Sedangkan untuk pasokan kumulatif properti perkantoran di Surabaya masih didominasi di wilayah Surabaya Pusat, Selatan dan Barat,” kata Feri Salanto, senior associate director research Colliers International, dalam Press Luncheon Laporan Property Market yang digelar di Four Points Hotel Sheraton, Rabu (30/1/2019).

Menurut Feri, perkembangan ini tidak diimbangi laju penyerapan ruang perkantoran di Surabaya. Jika ditinjau dari data historis per tahun, rata-rata penyerapan ruang perkantoran di Surabaya mencapai 10-12 ribu per tahun.

“Tahun 2019 sampai 2021 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi para pelaku usaha properti perkantoran di Surabaya,” kata dia.

Feri menuturkan, ada tiga hal yang menyebabkan terhambatnya serapan properti perkantoran di Surabaya. Pertama, rumah toko (ruko) masih menjadi pilihan utama pelaku usaha membuat kantor. Ini menjadi hambatan yang menyebabkan lemahnya tingkat serapan di gedung perkantoran.

Faktor kedua, sebut dia, pertumbuhan ekonomi cenderung lemah. Hal ini menyebabkan perusahaan menahan diri melakukan ekspansi usaha, termasuk ke Kota Surabaya.

Faktor ketiga, adanya beberapa perusahaan besar yang didukung dengan kondisi keuangan yang kuat lebih memilih membangun gedung perkantoran sendiri.

“Untuk mengatasi hal ini, pemerintah daerah bisa membuat peraturan supaya pelaku usaha dapat membuka kantor di gedung-gedung perkantoran. Seperti di Jakarta, pemerintah sudah menerapkan pelarangan para pelaku usaha membuka kantor di rumah dan mengarahkan mereka membuka kantor di gedung-gedung perkantoran,” tegas Feri.

Ia menambahkan, ada hal menarik yang dilakukan para pengembang properti perkantoran dii Kota Surabaya. Di mana langkah bisnis yang dilakukan pengembang sangat berbeda dengan di Jakarta. Kebanyakan pengembang di Surabaya cenderung memilih menyewakan properti perkantoran yang mereka bangun ketimbang harus menjualnya.

“Mereka lebih suka mencari uang atau fresh money dalam waktu singkat. Sehingga mereka menggunakan strategi marketing menyewakan properti yang mereka miliki. Lantas, untuk jangka panjangnya, baru mereka menjual properti perkantoran tersebut,” papar dia. Pola strategi bisnis ini, tegas Feri sangat dipengaruhi mindset masyarakat Surabaya. “Ya kebanyakan orang Surabaya berfpikir, kalau punya properti, khususnya kantor ini merupakan aset investasi. Nah, kalau aset ya ke depan bakal dijual,” ujarnya. (wh)