2017, BEI Perkirakan 33 Perusahaan Go Public

2017, BEI Perkirakan 33 Perusahaan Go Public

Kepala BEI Pusat Informasi Go Public Surabaya Dewi Sriana Rihantyasni dan Brach Manager Sekuritas Phintraco Sekuritas Indah Kartini Damayanti dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (6/10/2017). foto:arya wiraraja/enciety.co

Sepanjang tahun 2017 ini, sudah ada sekitar 22 perusahaan yang telah go public. Diperkirakan hingga akhir tahun 2017 mendatang, jumlah itu bakal meningkat hingga 33 perusahaan.

Hal itu disampaikan oleh Kepala BEI Pusat Informasi Go Public Surabaya Dewi Sriana Rihantyasni, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (6/10/2017).

Kata dia, seringkali para calon investor saham sangat kesulitan untuk menentukan perusahaan yang diminati untuk berinvestasi saham. Lantas, untuk menentukannya, menurut dia, para calon investor dapat memilihnya dari beberapa perusahaan yang baru go public.

“Secara logika, para perusahaan yang baru go public ini merupakan perusahaan yang sehat secara kinerja dan finansial. Selain itu, perusahaan-perusahaan yang baru go public ini kebanyakan memiliki potensi yang cukup tinggi untuk berkembang dengan kurun waktu 3-4 tahun ke depan,” ungkap dia.

Menurut Dewi, dengan berinvestasi saham, banyak peluang yang bakal didapatkan masyarakat. Jika dibandingkan menyimpan uang di bank, melakukan investasi saham adalah salah satu kegiatan investasi yang sangat menguntungkan.

“Saat ini, keadaan suku bunga Bank Indonesia hanya sekitar Rp 4,25. Dengan kata lain, ketimbang kita hanya melakukan investasi berupa deposito di bank, lebih baik kita menginvestasikan uang kita di lantai bursa saham,” cetus dia.

Di tempat sama, Brach Manager Sekuritas Phintraco Sekuritas Indah Kartini Damayanti, menjelaskan, untuk dapat meyakinkan masyarakat dalam berinvestasi saham, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa halal bagi kegiatan investasi saham.

“Sering kali, sebagian masyarakat Indonesia masih ragu dalam melakukan investasi saham. Banyak yang menanyakan kepada kami apakah investasi saham tersebut adalah kegiatan yang halal atau tidak. Karena kegiatan investasi masuk dalam kegiatan transaksi berjangka, maka MUI telah memutuskan jika kegiatan investasi saham merupakan kegiatan yang tidak melanggar agama,” kupas dia.

Dia menambahkan, dengan membeli saham, berarti seseorang memberi sebuah prospek jangka panjang sebuah perusahaan. Dengan membeli saham sebuah perusahaan secara tidak langsung kita juga merupakan pemilik dari sebuah perusahaan.

“Dengan memiliki saham dalam sebuah perusahaan, maka kita telah memiliki peluang usaha yang sangat bagus ke depan. Untuk itu, saya mengajak masyarakat agar dapat mengambil peluang usaha tersebut,” tandasnya. (wh)