2016, Indonesia dan India Bakal Jadi Kiblat Ekonomi Global

2016, Indonesia dan India Bakal Jadi Kiblat Ekonomi Global
Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, menjadi narasumber dalam acara Ekonomi Outlook 2016 di Papilio Hotel Surabaya, Kamis (11/2/2016) malam. foto:arya wiraraja/enciety.co

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya memprediksi pada tahun 2016 mendatang perekonomian dunia akan sangat dipengaruhi oleh kemajuan ekonomi Indonesia dan India. Hal itu dikarenakan keduanya memiliki pasar yang besar terutama di ASEAN.

“Indonesia juga memilki potensi bahan baku yang melimpah. Sedangkan India mulai konsen dalam pengembangan teknologi,” ungkap Kresnayana Yahya pada acara Indonesia Ekonomi Outlook 2016 di Papilio Hotel, Jalan A Yani, Surabaya, Kamis (11/2/2016) malam.

Ia lalu mengungkapkan, saat ini China mengalami kemunduran dalam ekspor. Sebelumnya, angka ekspor China sekitar 70 persen, sekarang turun menjadi sekitar 35 persen. Penurunan ini disebabkan lesunya perekonomian dunia pada tahun 2015 lalu.

Menurut pakar statistika ITS Surabaya itu, Indonesia harus waspada dalam menghadapi persaingan ekonomi global dia era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang berlaku tahun ini.

“Yang kita hadapi bukan lagi secara ekonomi saja, namun persaingan global yang harus kita diwaspadai. Contohnya Vietnam dan Filipina, kedua negara yang bakal menjadi pesaing Indonesia itu telah mempelajari bahasa hingga kebudayaan kita,” papar dia.

Kata Kresnayana, kedua negara tersebut memiliki kelemahan dalam nilai tawar perekonomiannya. Contohnya Philiphina, memang negara tersebut pada tahun 2015 lalu perekonomiannya tumbuh sekitar 6 persen, namun mereka punya pasar yang kuat dan sebesar Indonesia.

“Mereka hanya memiliki populasi penduduk sekitar 70 juta, sangat jauh jika dibandingkan dengan populasi penduduk Indonesia,” sebut dia.

Di sisi lain, sambung Kresnayana, Kamboja, Laos dan Myanmar kini telah menyiapkan strategi ekonomi yang luar biasa dalam menghadapi MEA. Ketiga negara tersebut telah membuat kebijakan yang sangat menarik dengan memberikan kebebasan kepada pihak asing dapat membuka pabrik di negara mereka.

“Ketiga negara tersebut membebaskan pajak selama tiga tahun terakhir bagi pihak asing yang ingin berinvestasi dengan membuka pabrik di negara mereka,” pungkas dia. (wh)

Informasi kebutuhan layanan data KLIK DISINI.