2016, Indonesia Bakal Jadi Incaran Investasi Eropa dan Jepang

2016, Indonesia Bakal Jadi Incaran Investasi Eropa dan Jepang
Kresnayana Yahya. foto:arya wiraraja/enciety.co

Memasuki tahun 2016, situasi ekonomi dunia khususnya Eropa dan Jepang telah menerapkan suku bunga negatif. Hal tersebut dilakukan karena kondisi perekonomian mereka saat ini melambat. Ditambah lagi kondisi jumlah uang mereka yang ada saat ini sedang banyak, maka langkah disinsentif tersebut yang dapat diambil oleh mereka untuk menyimpan uang. Jika langkah tersebut tidak diambil, kedepan mereka tidak memiliki uang untuk membayar bunga bank.

Sedangkan di Indonesia, tercatat BI Rate sebagai suku bunga acuan mencapai 7 persen. Diprediksi, angka tersebut akan diturunkan menjadi 6 hingga 5,5 persen. Langkah tersebut di ambil karena daya saing perekonomian Indonesia saat ini masih rendah.

Hal tersebut disampaikan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (26/2/2016).

“Di ASEAN orang yang melakukan peminjaman uang di bank hanya dikenakan bunga kurang lebih sebesar 4-5 persen. Sedangkan nilai inflasi negara kita saat ini di bawah 4 persen. Ini memberi angin segar bagi negara-negara yang saat ini mengalami kondisi suku bunga negatif untuk dapat berinvestasi di Indonesia,” katanya.

Menurut dia, ada dua jenis investasi, jangka pendek dan jangka panjang. Jika mereka memilih investasi jangka pendek, mereka akan masuk dalam pasar saham. “Perlu dicatat, jika pada awal Februari 2016, bursa saham kita naik sekitar 6 persen,” ungkap Kresnayana.

Pakar Statistika ITS Surabaya itu mengimbuhkan, jika sebenarnya mereka ingin masuk dalam investasi jangka panjang dengan cara ikut dalam kegiatan produksi. Ini yang membuat mereka sangat mengharapkan Indonesia memberi jaminan kondisi bisnis yang baik.

“Saat ini, nilai inflasi kita rendah. Nilai tukar mata uang kita berada di kisaran Rp 13,5 ribu per dolar. Ditambah lagi cadangan devisa kita mencapai 110 miliar dolar. Lalu, account deficit Indonesia terbilang kecil, yaitu di bawah 2 persen. Sedangkan jika kita melihat nilai investasi pemerintah yang mencapai Rp 400 triliun di sektor infrastruktur tersebut juga harus diimbangi banyaknya investasi di sektor riil,” tandas dia. (wh)