2015, Investor Saham Berjumlah 433.600 Orang

2015, Investor Saham  Berjumlah 433.600 Orang
ilustrasi: zastavki.com

Jumlah investor saham tahun 2015 ini tercatat tumbuh 19 persen menjadi 433.600 orang dibandingkan tahun 2014 sebesar 364.400 orang. Peningkatan tersebut merupakan yang tertinggi sejak kewajiban penerapan kepemilikan single investor identification (SID) diterapkan pada 2012.

Direktur Utama Kustodian Efek Sentral Indonesia (KSEI) Margeret M Tang mengungkapkan, peningkatan jumlah investor merupakan upaya KSEI dibantu OJK dan self regulatory organization (SRO) lainnya. “Program kerja sama dengan perusahaan efek dan emiten serta akademisi akan kembali digencarkan di tahun mendatang karena program seperti ini efektif menarik minat masyarakat untuk mengenal investasi di pasar modal,” tutur Margeret di Jakarta, Rabu (30/12/2015).

Dia melanjutkan, program yang dijalankan mencakup pembukaan rekening efek yang dilanjutkan dengan sesi edukasi, khususnya fasilitas Acuan Kepemilikan Sekuritas (AKSes).

KSEI juga melakukan serangkaian pengembangan infrastruktur untuk mendukung efisiensi bisnis operasional para pelaku di pasar modal. KSEI berhasil menyelesaikan salah satu milestone pasar modal Indonesia, yaitu fasilitas penyelesaian transaksi dana melalui sistem Bank Indonesia (BI-RTGS) yang memungkinkan pemegang rekening KSEI melakukan penyelesaian dana secara lebih mudah dan cepat, karena menggunakan sistem bank sentral yang lebih terpusat. “Pengukuhan kerja sama untuk menambah jumlah bank administrator Rekening Dana Nasabah (Bank RDN) dari sebelumnya enam bank menjadi sembilan bank, termasuk bank syariah, merupakan langkah konkret KSEI untuk mempermudah proses transaksi efek,” kata Margeret.

Bank RDN yang saat ini bekerja sama dengan KSEI adalah BCA, CIMB Niaga, Bank Mandiri, Bank Permata, BRI, BCA Syariah, BNI, Bank Sinarmas dan Bank Syariah Mandiri. “Apabila memang perlu dan memungkinkan, tidak tertutup kemungkinan KSEI menambah kembali jumlah bank RDN, agar sinergi pasar modal dan jaringan perbankan semakin luas,” jelasnya.

KSEI mengharapkan pembelian produk-produk pasar modal, seperti saham Inital public offering (IPO) dan reksa dana dapat dilakukan melalui jaringan perbankan antara lain ATM, internet banking dan lainnya. (bst)