2014, Teknologi Indonesia Harus Mandiri

2014, Teknologi Indonesia Harus Mandiri

Lima pakar teknologi lintas disiplin asal ITS menyoroti berbagai kondisi Indonesia dan Jatim untuk tahun depan, Kamis (19/12/2013). Bertempat di Plaza dr Angka, ITS, Refleksi Akhir Tahun tersebut diprakarsai Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITS.

Kelima narasumber tersebut ialah Hera Widyastuti, Prabowo, Kresnayana Yahya, M Nur Yuniarto, dan Amien Widodo. Masing-masing mengupas permasalahan sesuai bidangnya.

Ketua Pusat Studi Transportasi dan Logistik  Hera Widyastuti menyoroti kemacetan dan tingkat kecelakaan di Indonesia. Dia menyebutkan kendaraan roda dua merupakan penyumbang angka kecelakaan paling tinggi di Indonesia.

“Ini terjadi seiring dengan pertumbuhan produksi sepeda motor yang semakin pesat. Solusi yang bisa ditawarkan adalah perbaikan transportasi publik,” tuturnya.

Menyambung topik transportasi, Nur Yuniarto pun menambahkan terkait realita industri otomotif Indonesia. Produksi kendaraan bermotor kini benar-benar didominasi Jepang. Keadaan ini menyebabkan bangsa ini masih sulit menciptakan pembaruan seperti produksi mobil listrik.

“Kebijakan yang berhubungan dengan jalan raya pasti akan dipantau oleh Jepang sehingga Indonesia masih belum bisa mandiri,” ungkap dosen Jurusan Teknik Mesin ITS ini. Sebab sebagai pioneer yang memimpin pasar, Jepang pasti tak mau produknya ditiru dan mendapat saingan.

Nur lantas menjelaskan, bahwa penguasaan teknologi yang di luar hegemoni Jepang akan membantu mengurangi ketergantungan. “Kita berpeluang besar menguasai pasar-pasar mobil off-road. Selain itu, kita juga bisa masuk ke pasar komponen otomotif. Jd menarik. Peluangnya adalah after-market part. Ini yang tidak akan disentuh Jepang karena pasarnya ceruk,” ujarnya.

Di sisi lain, pengguna kendaraan bermotor yang semakin banyak ini sangat berpengaruh terhadap ketergantungan Indonesia pada bahan bakar minyak. Hal ini dibahas lebih lanjut oleh Prabowo. Ia mengungkapkan, masyarakat Indonesia sudah saatnya beralih pada energi alternatif baru dan terbarukan.

“Contoh energi terbarukan misalnya pohon jarak yang diubah menjadi biosolar,” tutur ketua Pusat Studi Energi ini.

Meski demikian, ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap aturan subsidi yang masih berlaku di Indonesia. Menurut Prabowo, subsidi di Indonesia bisa menyebabkan masyarakat tidak tertarik untuk berinvestasi di energi alternatif.

2014, Teknologi Indonesia Harus MandiriPersoalan bencana alam juga tak luput dari perbincangan. Amien menentang keras ungkapan yang mengatakan bahwa bencana adalah takdir yang tidak dapat dihindarkan. “Bencana bisa dihindarkan, tinggal kita mau atau tidak,” ungkapnya.

Amien mengkritik upaya pemerintah yang hanya tanggap pasca bencana. “Kita perlu perencanaan yang baik agar dapat menghindar dari bencana, bukan bergerak ketika bencana sudah terjadi,” tambahnya.

Sebab, Amien mengungkapkan, tindakan tanggap bencana yang tepat adalah sebelum, saat, dan pasca bencana. Penguasaan dan pengembangan teknologi kemudian menjadi mutlak dilakukan. Kresnayana Yahya memberikan contoh kasus di Pulau Madura. Ia mengatakan, Sumenep saat ini merupakan penghasil perikanan terbesar di Jatim. Namun karena minim teknologi dan sarana infrastruktur, hasil penjualannya jadi jatuh.

“Ini saatnya kita mengorientasikan ke teknologi yang lebih tinggi supaya lebih produktif. Serta memperluas cakupan industri ke wilayah lain, sehingga perekonomian kita benar-benar bergerak,” tuturnya. Kresna menyebutkan, 70 persen ekspor Jatim adalah dari industri manufaktur. Tetapi 67 persen komponennya adalah impor. Yang miris, 60 persen impor pada sektor jasa.

“Ini mengkhawatirkan. Kita sekarang terjebak pada apa yang disebut middle income trap. Apakah perekonomian suatu negara bisa dibilang sehat bila komponen terbesarnya justru pada sektor perdagangan, sementara sektor jasa kita impor? Saya pikir tidak,” terangnya.

Kresna melanjutkan, solusinya ialah memperbesar investasi. Sektor yang berkaitan dengan konsumsi barang cukup 40-50 persen saja. “Sebab, alangkah rentannya ekonomi negara bila hidup dan ditopang dari konsumsi,” tukasnya.(wh)