2014, Pertumbuhan Ekonomi Bias ke Bawah

2014, Pertumbuhan Ekonomi Bias ke Bawah

Pertumbuhan ekonomi 2014 akan cenderung bias ke batas bawah perkiraan Bank Indonesia sebelumnya 5,8-6,2 persen seiring dengan perbaikan ekonomi global.

Hal itu ditegaskan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (9/1/2014). Pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih baik, mendekati batas bawah kisaran 5,8-6,2 persen sejalan perbaikan ekonomi global di tengah berlanjutnya proses konsolidasi ekonomi domestik mengarah ke kondisi yang lebih seimbang.

“Perekonomian Indonesia 2013 menghadapi tantangan yang tidak ringan akibat dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Perekonomian negara-negara maju melambat dan diikuti koreksi pertumbuhan ekonomi negara-negara emerging markets. Pertumbuhan ekonomi global yang melambat pada gilirannya mendorong menurunnya harga komoditas dunia,” paparnya.

Selain itu, sambung Agus, ketidakpastian keuangan global juga meningkat tajam sejalan dengan sentimen negatif terhadap rencana pengurangan stimulus moneter (tapering off) di AS. Perkembangan terkini menunjukkan membaiknya kondisi ekonomi global dimotori oleh AS dan Jepang, serta indikasi pemulihan ekonomi di kawasan Eropa, China dan India.

“Perbaikan ini diperkirakan dapat berlanjut pada tahun 2014 sehingga dapat menopang ekonomi Indonesia ke depan, baik dari jalur perdagangan maupun jalur finansial,” kata Agus.

Namun Agus mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan bias ke bawah tidak berarti akan mengalami penurunan. Ia melihat pertumbuhan ekonomi di kisaran enam persen masih bisa dicapai.

“Bias ke bawah bukan berarti tidak bisa kembali ke kisaran enam persen, masih bisa kembali ke mid target,” ujar Agus.

Agus menambahkan, ekonomi global yang menurun dan keperluan untuk stabilisasi perekonomian nasional memang akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perekonomian Indonesia tahun 2013 diprakirakan tumbuh sebesar 5,7 persen, melambat bila dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2012 sebesar 6,2 persen. Penurunan pertumbuhan ekonomi 2013 tercatat pada terbatasnya pertumbuhan ekspor riil akibat melambatnya ekonomi global.

Dari sisi permintaan domestik, pertumbuhan investasi, khususnya investasi nonbangunan, juga melambat. Sementara itu, konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak utama pertumbuhan. Bank Indonesia menilai tren perlambatan ekonomi sejalan dengan arah kebijakan stabilisasi Pemerintah dan Bank Indonesia dalam membawa ekonomi ke arah yang lebih sehat dan seimbang.

“Secara keseluruhan, kebijakan stabilisasi yang terukur mampu diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi 2013 yang masih cukup tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara lain,” kata Agus.(ant/wh)