2014, Perdagangan Jatim Belarusia Diprediksi Naik 25 Persen

2014, Perdagangan Jatim-Belarusia Diprediksi Naik 25 Persen
Duta Besar Belarusia Vladimir Lopato Zagorsky.

 

Banyak pengamat memprediksi tahun politik 2014 bakal membuat pertumbuhan ekonomi melambat. Namun hal ini tidak berlaku bagi Jatim. Pasalnya, provinsi berpenduduk sekitar 36 juta ini, masih menggoda minat investor.

Hal itu terungkap dari kedatangan Duta Besar Belarusia Vladimir Lopato Zagorsky ke Utomo Deck, Senin (17/2/2014). Kedatangan Zagorsky ini untuk memperbesar nilai perdagangan baik dengan instansi swasta maupun perusahaan pemerintah.

Beberapa potensi yang dimiliki Belarusia tengah dijajal untuk ditawarkan di Indonesia. Seperti potasium untuk bahan baku pupuk, dairy bahan baku susu bubuk, alat kesehatan, produk militer, alat penunjang kegiatan tambang, alat konstruksi, dan keju.

“Beberapa produk akan kami perkuat, seperti potasium dan ada pula yang hendak kami tawarkan seperti dariy (bahan baku untuk susu bubuk). Untuk potasium ini tengah kami tawarkan ke PT Pupuk Indonesia,” kata Zagorsky.

Tahun lalu, nilai perdagangan Indonesia dengan Belarusia tercatat USD 140 juta. Dimana nilai transaksi itu sebesar USD 90 juta untuk impor dari Belarusia. Sebaliknya, nilai ekspor Indonesia ke Belarusia sebesar USD 50 juta.

Beberapa produk Indonesia yang sudah dipasarkan di Belarusia di antaranya kopi, teh, furnitur, peralatan musik, dan produk elektronik. Kemudahan yang ditawarkan Belarusia, dengan menjual produk di negaranya, sudah bisa dipasarkan di Russia dan Kazakshtan.

Zagorsky memprediksi nilai perdangangan tahun ini diperkirakan tumbuh antara 20-25 persen. “Kami tidak terpengaruh dengan tahun politik,” tegasnya. Seperti dairy tahun lalu produktivitas Belarusia mencapai 20 ribu ton pertahun. Dan dairy inilah yang akan dipasok ke Indonesia setelah mengantongi label halal.

Direktur Utama Utomo Deck Anthony Utomo bersedia diajak kerjasama dengan sistem joint venture. “Itu tawaran yang kita ajukan. Apa saja, bisa potasium, dairy, alat keshatan atau produk-produk lain,” ungkapnya. Menurutnya dengan joint venture pihaknya sama-sama untung.

Hanya saja kedua belah pihak belum bersedia membuka besaran investasi yang dibutuhkan. Untuk membuka pabrik sendiri dibutuhkan biaya dan lahan yang besar. “Saya kira itu tahapan berikutnya. Joint venture ini baru tawaran, agar kita sama-sama bekerja,” lanjutnya. (wh)