2014, Pasar Properti Diprediksi Turun 25 Persen

2014, Pasar Properti Diprediksi Turun 25 Persen

Naiknya BI Rate menjadi 7,5% akan menyebabkan penurunan pasar properti yang menggunakan fasilitas KPR, khususnya di segmen menengah ke bawah. Rencananya awal bulan Desember 2013 mulai banyak bank menaikkan suku bunga KPR menjadi di atas 10,5%.

Berdasarkan riset yang dilakukan Indonesia Property Watch, setiap kenaikan 1 persen suku bunga KPR akan menurunkan 4-5 persen pangsa pasar KPR, yang pada akhirnya akan mempengaruhi pasar properti secara keseluruhan.

“Sejauh ini masih ada bank bertahan mematok suku bunga fixed dua tahun 8,5 persen. Namun demikian, semua bank akan terus menyesuaikan suku bunganya dalam jangka waktu dua bulan ke depan. Diperkirakan antara BI Rate dengan suku bunga KPR terdapat perbedaan minimal 3 persen, sehingga suku bunga KPR menjadi minimal 10,5 persen,” jelas Ali Tranghanda Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch.

Dengan Berdasarkan riset yang kami lakukan, setiap kenaikan 1 persen suku bunga KPR akan menurunkan 4-5 persen pangsa pasar KPR,” jelas Ali Tranghanda Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch.

Menurut Ali, kondisi bunga KPR rata-rata 8,5 persen menjadi 10,5 persen, berarti dimungkinkan terjadi penurunan pangsa pasar properti KPR sebesar 10 persen- 12,5 persen. Belum lagi terjadi penundaan pembelian akibat melambatnya ekonomi yang akan menggerus daya beli masyarakat.

“Selain itu, dengan adanya aturan LTV (loan to value) dan pengetatan KPR inden dari Bank Indonesia, diperkirakan tahun 2014 akan terjadi penurunan pasar properti sampai 25 persen,” urainya.

Menurut Ali, seharusnya tinggi rendahnya suku bunga tidak menjadi masalah serius, karena menggunakan KPR dalam pembelian rumah, konsumen dapat memiliki rumah dalam jangka waktu panjang 10 – 15 tahun.

“Dengan jangka waktu lama dimungkinkan kita akan juga mendapatkan suku bunga KPR yang rendah,” kata Ali.

Kapanpun kita membeli properti—baik ketika suku bunga tinggi atau rendah—maka secara rata-rata kita akan membayar bunga sebesar 10-11 persen dalam periode cicilan KPR.

“Yang mengganggu pembelian properti saat suku bunga KPR tinggi seperti saat ini adalah daya cicil kita. Selain itu, siklus ekonomi yang melambat juga akan menggerus daya beli. Inilah yang membuat masyarakat sedikit banyak menunda pembelian rumah,” jelasnya.

“Namun perlu dipertimbangkan pula bahwa harga rumah yang ada tidak bisa menunggu sampai suku bunga rendah lagi. Harga rumah akan terus naik,” tukas Ali.(tribunnews/bh)