2014, Mobil Dinas Kampus se-Surabaya Pakai BBG

2014, Mobil Dinas Kampus se-Surabaya Pakai BBG

Konversi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi Bahan Bakar Gas (BBG) masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Indonesia. Terutama pada moda transportasi. Padahal, Indonesia penghasil LNG terbesar di dunia. Untuk memperkuat langkah tersebut, tahun ini, sosialisasi penggunaan BBG pada mobil dinas mulai dilakukan.

2014, Mobil Dinas Kampus se-Surabaya Pakai BBG
Teknisi BBG PT NTP, Sumitro (paling kanan), memperkenalkan converter kit.

Sosialisasi tersebut dilaksanakan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Jumat (6/12/2013) kepada para pimpinan di lingkungan ITS dan perwakilan perguruan tinggi se-Surabaya baik negeri maupun swasta. PT Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP) ditunjuk oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai pelaksana pengembangan dan pembagian converter kit BBG.

Memang faktanya, sebagian besar penduduk Indonesia masih menggunakan BBM. “Yang perlu diubah saat ini adalah paradigma masyarakat Indonesia tentang BBG itu sendiri,” ungkap Eka Wahyono, Vice President Sales PT Nusantara Turbin dan Propulsi. Masalah utamanya ialah pada budaya. Masyarakat masih terbiasa menggunakan BBM.

Padahal, penggunaan BBG jauh lebih murah jika dibandingkan BBM, baik premium maupun pertamax. “Pemerintah mensubsidi BBG ini sebesar Rp 3.100. Ini khusus transportasi saja lo, bukan industri,” terangnya. Selain itu, BBG jelas lebih ramah lingkungan karena rendah polusi udara dibandingkan kendaraan dengan BBM.

Tahun ini, Kementerian ESDM menerapkan pembagian 3000 converter kit secara gratis untuk mobil dinas pemerintah, maupun perguruan tinggi. Sebagai pelopor, setidaknya ITS akan memasang converter kit pada 43 mobil dinas. Pemasangannya hanya membutuhkan waktu enam hingga delapan jam, dan benar-benar tidak dipungut biaya sama sekali.

“Harapannya, dari paksaan untuk berubah ini, lantas akan dicoba menggunakan BBG, lalu menjadi terbiasa yang selanjutnya dapat berubah menjadi budaya masyarakat,” ungkapnya

Proyek converter kit senilai Rp 30 miliar ini diharapkan mampu meningkatkan minat kalangan mobil pelat merah agar mulai melirik BBG. Di Surabaya, tahun depan akan dibangun 5 stasiun BBG tambahan. Sementara saat ini telah ada 4 stasiun BBG. Eka tak berani berandai-andai tentang target peningkatan penggunaan BBG pada mobil.

“Yang penting sosialisasi dulu. Karena sejak tahun 1990-an, baru ada 5.000 mobil BBG di Indonesia. Ibaratnya kita harus berpacu dengan waktu, karena dengan adanya kebijakan mobil murah, diperkirakan akan ada 1,5 juta mobil baru lagi di negara kita,” paparnya.(wh)