2014, KAI Akan Beli Kereta Penumpang Rp 300 M

2014, KAI Akan Beli Kereta Penumpang Rp 300 M
Vice President Public Relation PT KAI Sugeng Priyono.

Tahun 2014, PT Kereta Api Indonesia berencana berinvestasinya Rp 300 miliar. Alokasi anggaran itu digunakan untuk bebelanja kereta jarak jauh (intercity) 100 unit. Sementara harga per unit ditaksir Rp 3 miliar.

Vice President Public Relation PT KAI Sugeng Priyono mengungkapkan, bila tahun ini sudah sepatutnya perusahaan melakukan peremajaan. “Bila selama ini kita hanya melakukan renovasi, tahun ini kita berencana berbeanja untuk peremajaan,” katanya.

Pembelian kereta penumpang ini sudah dilakukan perjanjian dengan PT Industri Kereta Api (INKA) Madiun. Ini merupakan pembelian perdana di tahun 2014, juga sekaligus pembelian dari dalam negeri.

Sugeng mengakui harga yang didapat dari PT INKA ini jauh lebih mahal ketika PT KAI membeli kereta peumpang bekas dari Jepang. Tahun 2013 lalu, PT KAI membeli kereta bekas per unitnya ditaksir Rp 1 miliar.

”Pertimbangan kita membeli kereta penumpang bekas itu karena butuh cepat, dalam jumlah besar, dan pertimbangan kualitas. Sedangkan pembelian kereta penumpang baru di INKA ini sesuai dengan perencanaan dan program,” urai pria kelahiran Surabaya itu.

PT KAI mendesak kepada PT INKA guna menciptakan kereta penumpang yang tidak kalah kualitas dengan produk Jepang. Sugeng meminta agar PT INKA menciptakan kereta penumpang yang aman, nyaman, berkualitas, dengan harga yang bersaing.

”Kita belinya betahap, tidak sekaligus 100 unit. Disesuaikan dengan kebutuhan, kereta mana yang butuh peremajaan cepat,” tegasnya.

Dengan adanya peremajaan ini membawa dampak besar bagi PT KAI dalam memberi pelayanan. Salah satunya dengan penyesuaian tarif tiket kereta jarak jauh, terutama untuk kereta ekonomi. Salah satunya yang sudah pasti dicabut subsidinya adalah kereta ekonomi tahun ini.

Tetapi, Sugeng membatah bila penyesuaian tarif itu bukan disebabkan peremajaan kereta penumpang. ”Semestinya kita memang melakukan penyesuaian tarif, karena perawatan dan spare part (suku cadang) 95 persen impor, sementara suku cadang itu masih tergantung dari dollar,” sebutnya. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dollar terus melemah. (bh)