2014, Investasi di Madura Diprediksi Rp 23,2 T

2014, Investasi di Madura Diprediksi Rp 23,2 T

Usia Jembatan Suramadu terhitung telah menginjak tahun keempat. Sejak diresmikan 2009, jembatan yang menghabiskan dana Rp 4,5 triliun ini masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.

Badan Pengembangan Wilayah Suramadu berpacu dengan waktu untuk mendorong percepatan pengembangan Madura pasca Suramadu dibangun. Namun, PR terbesar terletak pada Sumber Daya Manusia. Berbagai solusi berusaha dikuak pada Focus Group Discussion (FGD) Kajian Strategis Pelaksanaan Pelatihan Sumber Daya Manusia Madura di Hotel Elmi, Surabaya.

Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya, menjelaskan Madura memiliki potensi sumber daya alam melimpah. Data statistik menunjukkan, potensi di bidang pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan pertambangan yang mencukupi.

“Setiap kabupaten mempunyai keunggulan yang berbeda. Kabupaten Bangkalan menonjol di pertanian, konstruksi, dan jasa. Lalu ada Sampang di bidang pertanian, pertambangan dan galian, serta jasa,” jelasnya. Untuk Kabupaten Pamekasan dan Sumenep lebih unggul di bidang pertanian dan konstruksi.

Maka untuk menyokong percepatan industrialisasi Pulau Garam tersebut, perlu dilakukan pelatihan  SDM. “Kita perlu melakukan kajian supaya strategi pengembangan. Kita semua berharap, setelah investor masuk, SDM Madura dapat memenuhi keperluan yang dibutuhkan,” kata Kresna.

Sebab, sebut dia, diprediksi pada 2014, nilai investasi di Madura bisa mencapai Rp 23,2 triliun dengan kebutuhan 149.691 tenaga kerja.

Meskipun mayoritas tingkat pendidikan terakhir masyarakat Madura adalah sekolah dasar, Kresnayana optimis pemberdayaan SDM Madura akan berhasil. “Mau tidak mau kita harus segera memulai. Dengan begitu, 3-10 tahun ke depan diharapkan sudah ada kesiapan untuk menyambut investasi di Madura,” tandasnya.

Menurut pakar Statistik ITS tersebut, pelatihan kemampuan kerja berdasarkan keterampilan adalah yang terpenting. “Kita bisa lihat, jenjang pendidikan di Madura sudah lengkap. Dari SD, SMP, SMA, pondok pesantren, hingga universitas. Tapi lapangan pekerjaannya yang belum ada,” ujar Kresna.

Ia menyayangkan, banyaknya pelatihan bagi masyarakat Madura tidak seimbang dengan jumlah pekerjaan. Maka dari itu, penguasaan skill melalui pendidikan dan pelatihan dilakukan agar memiliki daya saing di pasar tenagakerja sekaligus mendukung peningkatan investasi di Madura.

“Juga memaksimalkan penggunaan sistem teknologi informasi ketenagakerjaan yang sinergis antara empat kabupaten Madura. Baik untuk data base, monitoring pelaksanaan pelatihan, maupun evaluasi hasil pelatihan dan implikasinya. Itu penting,” ungkapnya.

Kresnayana lalu merekomendasikan pembentukan divisi khusus penanganan dan monitoring pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Serta pengoptimalan peran pondok pesantren yang jumlahnya besar di Madura.

“Sebab, usai pelatihan, keterampilan masyarakat harus terus diasah. Begitu investor datang, keterampilan mereka bisa langsung dipakai,” pungkasnya.

Sementara itu, Deputi Pengendalian BPWS Agus Wahyudi menegaskan, pihaknya kini serius mempersiapkan SDM sebelum industrialisasi berjalan serta investasi di Madura berkembang.

“Oleh karena itu, butuh ada penyiapan lewat pelatihan bagi SDM Madura. Kita carikan model pelatihan yang paling tepat. Karena tidak semua pelatihan cocok dengan kultur orang Madura,” ucapnya.(wh)