2014, BTN Berharap Bukukan Kredit Rp 124 T

2014, BTN Berharap Bukukan Kredit Rp 124 T

Di tengah tekanan  terhadap sektor perbankan akibat kenaikan BI rate, Bank Tabungan Negara (BTN) optimistis bisa membukukan pertumbuhan kredit 24 persen tahun ini.

Sepanjang 2013, Bank BUMN yang fokus pada pengembangan kredit perumahan ini mampu mencatatkan total kredit sebesar Rp 100,5 triliun dengan pencapaian laba bersih yang dihimpun mencapai Rp Rp 1,56 triliun.

“Kita tetap akan memfokuskan penyaluran kredit kepada sektor properti,” ujar Dirut BTN Maryono kepada pers dalam paparan kinerja BTN di Jakarta, kemarin (10/2/2014).

Dengan target pertumbuhan kredit 24 persen, laju outstanding kredit BTN hingga akhir 2014 diharapkan naik menjadi Rp 124 triliun, dengan target laba bersih sekitar Rp 2 triliun, atau naik sekitar 28 persen dibanding realisasi laba bersih yang dihimpun sepanjang 2014 yang mencapai Rp 1,56 triliun.

Diungkapkan, dari total kredit sebesar Rp 100,5 triliun yang telah digelontor kepada sekitar 4 juta nasabahnya, sebesar 86,6 persen ditujukan untuk kredit sektor perumahan, dan sisanya sebesar 13,4 persen untuk sektor non perumahan.

Direktur BTN Irman Alvian Zahiruddin mengakui kenaikan BI rate dan penerapan Loan To Value untuk kredit properti sedikit banyak mempengaruhi laju kredit ke sektor ini. “Namun, kita berharap  dengan permintaan yang tinggi, laju kredit BTN bisa tetap tumbuh bagus,” katanya.

Pada bagian lain, Dirut BTN mengungkapkan transformasi yang kini tengah dilakukan BTN dengan tetap memfokuskan kepada penyaluran kredit di sektor properti. “Saat ini BTN masih menduduki peringkat 10 dari sisi aset. Kita berharap pada 2017 bisa menyodok ke peringkat tujuh besar dari sisi aset,” harapnya.

Sepanjang 2013, total aset BTN tercatat sebesar Rp 131,2 triliun, naik 17,38 persen dibanding aset di 2012 yang mencapai Rp 111,7 triliun. Sementara total dana pihak ketiga di 2013 mencapai Rp 96,21 triliun, naik 19,24 persen dibanding DPK yang dicatatkan sepanjang 2012 yang mencapai Rp 80,68 triliun. “DPK naik cukup signifikan sepanjang 2013. Yang menggembirakan, naiknya DPK dikontribusikan oleh simpanan giro yang berbiaya murah,” papar Maryono.(wh)