20 Persen Warga Surabaya Masih Acuh Terhadap Kemajuan Kota

20 Persen Warga Surabaya Masih Acuh Terhadap Kemajuan Kota

Eri Cahyadi, Kresnayana Yahya, dan Errol Jonathan.foto:arya wiraraja/enciety.co

Bapak Statistika Indonesia Kresnayana Yahya mengungkapkan, sekitar  20 persen masyarakat Surabaya belum memerdulikan perkembangan kota yang makin hari makin maju.

“Ini tugas kita sebagai warga kota harus menyadarkan warga yang masih bersikap acuh ini,” ujar Kresnayana dalam acara seminar bertajuk “Surabaya Modern: Apa dan Bagaimana?” yang digelar di Waroeng Pilem, Jalan Jarak 29, Surabaya, Jumat (5/7/2019).

Dalam acara tersebut juga dihadiri Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Eri Cahyadi dan Direktur Radio Suara Surabaya Errol Jonathan.

Menurut dia, tugas penting harus dilakukan sekarang adalah mengubah pola pikir dan perilaku sehingga kita sama-sama bisa membangun Kota Surabaya menjadi lebih baik lagi.

Saat ini, terang  Chairperson Enciety Business Consult itu, banyak warga pendatang yang memanfaatkan perkembangan Kota Pahlawan ini. Bekerja dan mendapatkan penghasilan.  Hal inisangat wajar, mengingat Surabaya merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Timur dan salah satu kota terbaik di dunia.

“Kurun beberapa waktu kedepan, saya yakin ada anak dari Vietnam, dari Thailand dengan tingkat kompetensi melebihi rata-rata datang ke Surabaya untuk memanfaatkan perkembangan Kota ini,” ujar Kresnayana.

Hal ini menjadi penting, sebab kedepan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat makin tinggi, sesuai dengan perkembangan zaman yang makin maju. Kresnayana lantas mencontohkan ada satu daerah Kecamatan Simokerto yang punya masalah dengan satu golongan masyarakat yang belum mau perduli terhadap perkembangan Kota Surabaya.

20 Persen Warga Surabaya Masih Acuh Terhadap Kemajuan Kota
foto:arya wiraraja/enciety.co

“Di Simokerto itu ada satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang sangat konsen terhadap perkembangan anak. LSM ini adalah pencetus program 1000 hari kehidupan. Namun upaya mereka ini masih terhambat oleh golongan masyarakat yang belum mau perduli dan masih terikat dengan adat istiadat yang keliru,” terangnya.

Lebih lanjut, Kresnayana menjelaskan, jika program-program bagus semacam ini tidak dapat berjalan maksimal jika masih ada masyarakat yang acuh dan tidak ingin berubah menjadi lebih baik lagi.

“Saya berharap suatu saat orang-orang seperti itu bakal malu sendiri, karena makin lama orang-orang seperti itu tidak ada lagi. Mau tidak mau mereka ini harus berubah menjadi lebih baik lagi,” ujar Kresnayana.

Sementara, Kepala Bappeko Surabaya Eri Cahyadi menegaskan jika arah pembangunan Kota Surabaya dilakukan dari wilayah perkampungan. Kata dia, kampung merupakan konstruksi dasar kemajuan kota. “Jika kampungnya maju, masyarakatnya juga jadi makin makmur,” tegas Eri.

Eri juga mengatakan, pembangunan yang dilakukan di kampung-kampung, dimulai dari pembangunan lingkungan. Jika lingkungannya tertata, masyarakat jadi lebih lebih peka memahami untuk membangun segala aspek yang ada di sekitarnya.

“Masyarakat jadi dapat berkembang. Kampungnya jadi makin berkembang juga. Ini jelas bakal membawa pengaruh positif yang sangat besar bagi kemajuan Kota Surabaya,” tandas dia.

Di sisi lain, Direktur Operasional Radio Suara Surabaya Errol Jonathanmengatakan jika perkembangan arus informasi dan kemajuan teknologi harus dapat dimanfaatkan dengan baik oleh warga Surabaya. Karena, arus informasi dapat membantu masyarakat memperkenalkan perkembangan Kota Surabaya.

Selain itu, sambung Errol, Surabaya bisa menggunakan data base ini untuk kepentingan promosi Kota Surabaya. “Contohnya, beberapa waktu lalu saya ke Changi Airport. Hingga kini saya selalu dapat email dari Changi yang isinya promosi paket hiburan atau promosi event. Cara seperti ini bisa dilakukan, misalnya kampung-kampung di Surabaya promosi acara dan lain sebagainya,” ujar Errol. (wh)