2 Warga Diduga Gabung Gafatar, Pemkot Surabaya Hubungi Kedubes di Malaysia

2 Warga Diduga Gabung Gafatar, Pemkot Surabaya Hubungi Kedubes di Malaysia
Kepala Bakesbangpol & Linmas Surabaya Soemarno, Foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Usai menerima surat dari Suharijono orang tua Erri Indra Kautsar pada 15 September 2015 lalu yang ditujukan kepada Wali Kota, pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melakukan konsolidasi. Selain memantau pergerakan ormas Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), pihak Pemkot melalui Badan Kesatuan Bangsa Politik & Perlindungan Masyarakat (Bakesbangpol & Linmas) Surabaya juga telah berkoordinasi dengan jajaran kepolisian.

“Kabar menghilangnya dua warga Surabaya diduga terkait Gafatar mendapat perhatian dari Pemkot. Berbagai upaya telah dilakukan demi menemukan petunjuk keberadaan kedua orang tersebut,” kata Kepala Bakesbangpol & Linmas Surabaya Soemarno, Rabu (13/1/2016).

Selain berkoordinasi dengan kepolisian, pihak Pemkot Surabaya juga telah membangun komunikasi dengan kedutaan besar Indonesia di Kucing, Malaysia. Pasalnya, dari hasil pelacakan terakhir, Erri sempat teridentifikasi berada di Pontianak dan dikabarkan ada kemungkinan menyeberang ke wilayah Malaysia.

Ia menjelaskan, sejatinya ormas tersebut sudah eksis di Kota Pahlawan sekitar tahun 2012-2013 lalu. Berdasar pantauan Bakesbangpol & Linmas, aktivitas Gafatar sejauh ini lebih banyak berupa kegiatan berkelompok, seperti kerja bakti, pembagian sembako, jalan sehat dan sebagainya.

“Secara fisik sangat sulit mengidentifikasi anggota Gafatar. Tapi, ciri-ciri saat mereka melaksanakan kegiatan formal dapat diketahui dengan seragam khas berwarna oranye disertai lambang Gafatar matahari terbit,” ujar pejabat kelahiran Nganjuk tersebut.

Dan, keberadaan Gafatar sendiri menurut Soemarno jelas-jelas ilegal karena tidak terdata di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Dengan demikian, sesuai aturan, ormas yang tidak terdaftar tidak mendapat pelayanan dari pemerintah maupun pemerintah daerah.

Menyikapi hal tersebut, Pemkot mengeluarkan surat edaran tertanggal 1 April 2015 yang ditandatangani Asisten Pemerintahan Yayuk Eko Agustin. Isinya, menekankan kepada seluruh camat dan lurah agar tidak memberikan fasilitas serta tidak melibatkan ormas Gafatar dalam kegiatan-kegiatan apa pun di lingkup Pemkot.

Pihak Pemkot Surabaya sendiri meminta warga agar tetap tenang dan tidak resah serta beraktifitas seperti biasa. Dia menghimbau masyarakat lebih waspada saat bergabung pada suatu kelompok. Ia juga berharap orang tua mengawasi aktivitas anaknya, sebab tidak jarang rekrutmen organisasi yang menyimpang menyasar individu usia muda.

“Pahami dulu ideologi suatu organisasi. Pastikan tidak menyimpang dari ajaran agama yang diakui di Indonesia. Di sisi lain, kami akan mengmaksimalkan peran camat, lurah hingga RT dan RW untuk mengawasi masing-masing wilayah. Bilamana ada penyimpangan atau indikasi pelanggaran aturan akan segera dilaporkan,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan, dua warga yang hilang adalah Erri Indra Kautsar, 20, mahasiswa semester V jurusan elektronika, PENS dan Faradina Ilma, 25, PNS Pemprov Jatim. Kedua orang ini diduga mengikuti kelompok Gafatar. (wh)