12 Persil Lahan Lokalisasi Dibebaskan Pemkot Surabaya

12 Persil Lahan Lokalisasi Dibebaskan Pemkot Surabaya
Salah satu lokasi di ekas lokalisasi Putat yang telah beralih fungsi di jadi tempat usaha. Foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Pembebasan lahan di tiga bekas lokalisasi Surabaya yang telah ditutup, yaitu di Putat, Klakahrejo, dan Sememi terus dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Teranyar, ada 12 persil lahan milik warga yang ditargetkan dibebaskan Melalui Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah (DPBT), ke-12 lahan tersebut akan dibebaskan pada tahun 2016.

Sebelumnya, di tahun 2015 lalu, di tiga eks lokalisasi Sememi, Putat, dan Klakahrejo tercatat hanya ada tiga persil yang berhasil terbebaskan. Yaitu dua persil di Sememi, dan satu persil di Putat.

Pembebasan lahan di eks lokalisasi berdasarkan permintaan dari warga sendiri. Bila ada warga menawarkan ke Pemkot Surabaya, maka baru bisa proses untuk pembebasan. Selama belum ada penawaran, Pemkot Surabaya tidak bisa memaksa untuk membeli lahan di sana.

Kepala DPBT Maria Teresia Ekawati Rahayu mengatakan, pembebasan lahan ini diharapkan bisa dipercepat agar rencana pemkot untuk melakukan alih fungsi dan revitalisasi warga terdampak juga bisa segera direalisasikan.

“Ke-12 persil lahan ini merupakan kelanjutan pembebasan lahan pada 2015 lalu. Sekarang memang masih proses dan kami harapkan dapat dipercepat. Dan anggaran dana yang telah dipersiapkan di tahun 2016 ini mencapai Rp 3 miliar,” tegas wanita yang dulu menjabat sebagai Kepala Bagian Hukum Pemkot Surabaya, Senin (11/1/2016).

Ia menerangkan, untuk pembebasan 12 lahan ini persil-persilnya seluruhnya sudah masuk ke pemkot. Baik persilnya maupun berkas kelengkapan persil yang akan dibebaskan. Akan tetapi untuk detail jumlah di masing-masing eks lokalisasi pihaknya masih belum bisa menyebutkan.

“Kepastian mana yang akan setuju dan tidak masih belum pasti,” cetusnya.

DPBT telah menyiapkan dana anggaran dimana untuk pembayarannya harus menunggu proses dan prosedur pembebasan lahan. Yaitu, adanya kelengkapan dokumen lahan, kelengkapan dokumen perencanaan, penetapan lokasi oleh BPN, pengukuran, lalu appraisal.

“Setelah aprraisal keluar, DPBT Surabaya akan turun untuk menawarkan harganya ke pemilik lahan. Sehingga proses sampai lahan terbebaskan memang cukup lama,” terangnya. (wh)