1.700 Surat Pernyataan Terkumpul, Pedagang Pasar Turi Siap Putus Kontrak

1.700 Surat Pernyataan Terkumpul, Pedagang Pasar Turi Siap Putus Kontrak
Koordinator Pedagang Pasar Turi, H. Syukur menunjukkan tumpukan surat pernyataan pedagang Pasar Turi yang meminta putus kontrak dengan PT Gala Bumi Perkasa di Posko Kompag, Senin (17/11/2014).

Sedikitnya 1.700 pedagang dari total 3.780 pedagang pasar turi yang terdaftar mengaku siap untuk mengambil langkah putus kontrak dengan investor Pasar Turi Baru, PT Gala Bumi Perkasa. Masing-masing pedagang mengumpulkan pernyataan sikap dengan dibubuhi tanda-tangan bermaterai yang menegaskan siap menempuh langkah hukum dan mendukung Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk mengambil-alih Pasar Turi Baru.

“Intinya dari ribuan pernyataan tersebut pedagang sudah benar-benar siap untuk putus kontrak dengan PT Gala Bumi Perkasa. Kami harus berjuang dari pada nantinya selama 25 tahun kami harus diperas terus oleh PT Gala Bumi Perkasa,” tegas Koordinator Pedagang Pasar Turi H. Syukur saat ditemui enciety.co, Senin (17/11/2014).

Menurut Syukur, sementara ini baru sekitar 1.700 pedagang yang menyerahkan surat pernyataan ke Posko yang dibentuk para pedagang di Tempat Penampungan Sementara (TPS) depan Kantor PMK Surabaya. Masih ada ribuan pedagang dari luar kota yang rencananya akan mengirimkan suratnya ke posko pengaduan.

“Ini ada enam kelompok pedagang. Mereka sudah mengordinir anggotannya masing-masing untuk segera menyerahkan surat pernyataan. Sebenarnya hari ini kami serahkan surat pernyataan ke Pemkot tapi kita undur sampai semuanya terkumpul dulu,” akunya.

Syukur juga mencatat selain pedagang lama, pedagang baru yang direncanakan menempati lantai 4 gedung Pasar Turi Baru juga banyak yang ikut-ikutan memnyerahkan surat pernyataan meminta putus kontrak dengan PT Gala Bumi Perkasa. “Sudah ada 60 pedagang baru yang ikut,” cetusnya.

Dia yakin dengan memutus kontrak setidaknya nasib pedagang akan lebih baik ketimbang terus bertahan sebagai sapi perahan PT Gala Bumi Perkasa. Menurut Syukur juga, Pemkot Surabaya harus segera mengambil langkah hukum karena PT Gala Bumi Perkasa melanggar perjanjian awal dengan Pemkot Surabaya.

“Siapa bilang kalau dasar hukum Pemkot lemah. Justru sebaliknya dasar hukum perjanjian antara Pemkot dengan PT Gala Bumi Perkasa kuat. Harusnya sesuai dengan pasal 14 ayat 1 sampai 4 dan pasal 28 UU Perdata PT Gala Bumi Perkasa menyelesaikan masa pembangunan Pasar Turi selama dua tahun,” bebernya.

Tapi, menurut Syukur, lebih dari dua tahun pembangunan Pasar Turi tak kunjung selesai. “Pemkot Surabaya sudah lebih dari dua kali memberi kesempatan untuk menyelesaikan pembangunan Pasar Turi,” tegasnya.

Pedagang lain, H. Suhaimi, menambahkan bahwa selama ini di Pasar Turi belum adanya sambungan listrik dan air. Bahkan PT Gala Bumi Perkasa justru meminta pedagang untuk memasang sendiri listirknya dan memanggil petugas PLN dan PDAM. “Kami kan sudah bayar, kenapa suruh menyambung listrik sendiri,” kesalnya.

Selain itu, ungkap Suhaimi, sebagai pedagang lama harusnya mendapatkan jatah zoning di lantai satu dan dua Pasar Turi Baru. Namun justru stan miliknya di lantai satu dan dua dijual PT Gala Bumi Perkasa ke pedagang baru dengan harga jauh lebih tinggi.

“Kami bersama 500 pedagang lama lalu dibuang ke stan lantai empat, padahal kami pedagang lama,” tegasnya. (wh)