World Bank Bantu Surabaya Mantapkan Desain MRT

World Bank Bantu Surabaya Mantapkan Desain MRT

 

Sembari menunggu kepastian bantuan dana pemerintah pusat, Pemerintah Kota Surabaya mendapat bantuan dari World Bank terkait pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) alias Angkutan Massal Cepat (AMC).

Tim World Bank memaparkan hasil studi Transit Oriented Development (TOD) kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Balai Kota, Rabu (26/2/2014). Tim tersebut dipimpin senior ahli ekonomi dan tata kota, Taimur Samad.

Selama satu jam, Samad menjelaskan 10 poin TOD desain koridor di sekitar kawasan jalur monorel-trem. Samad menekankan pada peningkatan keterbacaan rute trem, sehingga terpadu dengan bangunan-bangunan kota.

“Rute harus menghargai keberadaan bangunan cagar budaya, mengelola dampak pembangunan ulang kampung-kampung, hubungan dengan sungai. Serta memperluas cakupan taman-taman kecil sekaligus ruang terbuka hijau, meningkatkan kesan visual menuju Balai Kota, dan meningkatkan hubungan transportasi intermodal,” katanya.

Wali Kota Tri Rismaharini menyampaikan komentarnya. Ia berpendapat, pengembangan beberapa titik terpilih akan memiliki tantangan dan peluang yang besar. Contohnya di ruas jalan utama yang padat, yakni di Jembatan Merah, Keputran, maupun Mayjen Soengkono.

“Perlu dibuatkan kanopi supaya pejalan kaki bisa nyaman dan nggak kepanasan,” sahutnya.

Risma pun menekankan perlunya memberikan proteksi terhadap bangunan-bangunan cagar budaya dan kampung-kampung tradisional yang ada di Surabaya. “Kita harus memproteksi bangunan heritage, termasuk sistem drainase dan juga kawasan hijau,” ujarnya.

Pun dengan angkutan kota. Risma menyebutkan, angkutan kota harus terpadu dengan AMC. “Transportasi kan ndak bisa sepotong-sepotong, semua harus terpadu. Kan ndak bisa cuma naik trem saja. Makanya ada jalur sepeda,” jelasnya dia.

Sebelum pertemuan paparan ini digelar, pihak World Bank mengadakan forum diskusi selama tiga hari. Diskusi itu untuk menjaring potensi, permasalahan, dan ide pengembangan kawasan MRT bersama Satuan Kerja

Perangkat Daerah (SKPD), pihak kecamatan, dan akademisi. Titik-titik mana saja yang potensial dijadikan transit utama jalur MRT juga dibahas.

Usai dipaparkan, konsep desain pengembangan koridor kawasan sekitar jalur MRT itu akan mendapatkan penilaian dan saran dari walikota Surabaya serta Bappeko. Selanjutnya untuk detail desain, pihak Pemkot Surabaya sendiri yang akan menentukan.

“Ini adalah langkah awal pembangunan koridor. Pada akhir April nanti kami akan kembali ke Surabaya dengan action plan yang lebih jelas untuk awal pembangunan AMC,” ujar Samad.(wh)