Waspadai Zika Tapi Jangan Lupakan DBD

Kemkes mengimbau masyarakat agar tidak khawatir berlebihan terhadap virus Zika lantas melupakan DBD. Sebab, dibanding Zika, DBD justru lebih berbahaya di Indonesia.

Tingginya kasus DBD di Indonesia hingga terjadi KLB dipicu beberapa faktor, di antaranya lingkungan yang masih kondusif untuk terjadinya tempat perindukan nyamuk Aedes dan pemahaman masyarakat terbatas mengenai pentingnya pemberantasan sarang nyamuk. Selain itu, perluasan daerah endemik akibat perubahan dan manipulasi lingkungan yang terjadi karena urbanisasi dan pembangunan tempat pemukiman baru serta meningkatnya mobilitas penduduk.

Masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap penyakit DBD mengingat setiap tahun kejadian DBD cenderung meningkat pada pertengahan musim penghujan sekitar Januari, dan cenderung turun pada Februari hingga ke penghujung tahun. Dengan mengatasi ancaman DBD, secara otomatis juga mencegah penularan Zika di Indonesia.

Seperti DBD, Zika juga ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Beberapa hasil penelitian menunjukkan nyamuk Aedes hidup sangat dekat dengan manusia di lingkungan pemukiman. Jangkauan terbangnya pendek sekitar 30-50 meter. Nyamuk ini ada di sekitar manusia karena membutuhkan darah manusia untuk kelangsungan hidup dan generasi penerusnya. Nyamuk ini menghisap darah manusia terutama saat pagi dan sore.

Nyamuk Aedes yang sering dikenal dengan nyamuk belang-belang hinggap dan beristirahat di dalam rumah maupun gedung pada pakaian yang digantung, gorden, dinding rumah, dan tempat yang agak gelap. Jentiknya banyak ditemukan di bak mandi, penampungan air bersih, penampung air di dispenser, talang air, botol atau kaleng bekas, ban bekas dan penampungan air lainnya di pemukiman.

“Siklus hidup jentik nyamuk ini adalah 8-12 hari, setelah itu berkembang menjadi nyamuk dewasa generasi baru. Bila dibiarkan, nyamuk dewasa tidak hanya menularkan DBD, tetapi juga penyakit lain seperti filariasis, cikungunya, dan malaria,” kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemkes, Mohammad Subuh. (bst)

Marketing Analysis 2018