Validasi Kecerdasan Sosial ala Surabaya

Validasi Kecerdasan Sosial ala Surabaya

Arifin BH

*) Arifin BH

Secara sosiologis yang cerdas sebenarnya adalah warganya. Memang ada internet, aplikasi, dan platform, tetapi rohnya rasa adalah kebersamaan.

Kalimat itu dilontarkan Daisy Indira Yasmin, Sosiolog Universitas Indonesia, salah satu juri Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2018, dalam diskusi usai penganugerahan IKCI 2018 di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Dalam event ini, Kota Surabaya meraih penghargaan IKCI 2018.Dari penghargaan yang diselenggarakan Harian Kompas itu, Surabaya mengalahkan 93 kota se-Indonesia yang masuk dalam perhitungan indeks kota cerdas.

Kota Pahlawan berhasil meraih nilai tertinggi untuk kategori Kota Metropolitan. Penghargaan secara langsung diterima oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Jakarta.

Dalam IKCI 2018, ada 93 dari 98 kota se-Indonesia yang masuk dalam perhitungan indeks kota cerdas. 93 kota itu, kemudian dikelompokkan dalam empat kategori.

Pertama, kategori Kota Metropolitan dengan penduduk minimal 1 juta jiwa. Kedua kota besar, dengan jumlah penduduk antara 500 ribu jiwa hingga 1 juta jiwa. Ketiga kota sedang, dengan jumlah penduduk antara 100 ribu jiwa hingga 500 ribu jiwa. Keempat kota kecil, dengan jumlah penduduk paling banyak 100 ribu jiwa.

Setelah Surabaya, Kota Semarang menyusul di peringkat kedua dengan nilai 63,69 dan ketiga Kota Tangerang Selatan, dengan nilai 61,68.

Indeks penilaian ini, berfokus pada metode lingkaran kota cerdas milik Boyd Cohen. Enam indikator penilaian itu, terdiri dari pemerintahan, ekonomi, mobilitas, lingkungan, kualitas hidup, dan masyarakat.

Banyak Penghargaan

Menurut catatan penulis, sejumlah penghargaan bergengsi telah diraih Kota Surabaya selama 2018. Surabaya meraih penghargaan Lee Kuan Yew World City Prize 2018 dalam kategori Special Mention di Singapura.

Penghargaan tersebut diterima Wali Kota Surabay, Tri Rismaharini saat menghadiri acara World Cities Summit (WCS) 2018 pada 7-9 Juli 2018 di Singapura.

Surabaya juga meraih penghargaan dalam ASEANTA Awards 2018 kategori Asean Clean Tourist City Standard Award. ASEANTA adalah penghargaan di bidang pariwisata untuk negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Kota Surabaya berhasil meraih penghargaan Kementerian Pendayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) dalam Top 99 inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) pada 19 September 2018.

Tiga inovasi tersebut yakni, 6 in 1 meliputi akte kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, surat pindah datang dan pindah keluar secara online. Kedua, inovasi Tahu Panas (Tak Takut Kehujanan dan Tak Takut Kepanasan) yaitu sebuah kegiatan perbaikan rumah yang dirasa tidak layak huni melalui program rehabilitasi sosial daerah kumuh. Ketiga, inovasi Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda.

Di penghujung tahun 2018, Kota Surabaya kembali meraih penghargaan di kancah internasional, Guangzhou International Award 2018. Kota Surabaya dinobatkan sebagai kota terpopuler dengan cara voting online. Indonesia menduduki posisi pertama dengan jumlah vote 1.504.535.

Kekuatan Persuasi

Kita adalah mahluk sosial. Kita semua memiliki keinginan dalam arti untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok sosial. Begitu tingginya kita menghargai rasa kebersamaan ini sehingga ketika semakin banyak orang yang mengatakan bahwa sebuah gagasan, tren, atau posisi itu menarik atau benar, semakin benar pula gagasan itu di dalam pikiran kita.

Hukum validasi sosial dipahami dan dibangun atas dasar keinginan alami kita untuk menjadi bagian dari suatu kelompok. Hukum itu mengatakan bahwa kita cenderung untuk mengubah pandangan, pendapat, dan perilaku kita agar sesuai dengan norma kelompok. Oleh sebab itu, kita menggunakan perilaku orang lain sebagai panduan untuk membentuk standar bagi pilihan dan keputusan yang kita buat.

Validasi sosial memaksa kita mengubah perilaku, sikap, dan tindakan kita. Padahal, bisa jadi apa yang terjadi sesungguhnya tidak sesuai dengan perasaan dan pemikiran kita. Kita malah melawan diri sendiri demi ikut menjadi bagian dari sebuah kelompok.

Kita mencari norma sosial untuk membantu mengetahui apa yang harus kita lakukan. Sebagian besar hal ini terjadi melalui proses yang tidak disadari. Kita secara pelan-pelan menerima banyak cara dalam berperilaku yang ditentukan oleh lingkungan kita dan tindakan orang lain.

Dalam banyak hal, kita semua adalah pengikut. Kita akan melakukan apa yang dilakukan orang banyak. Kita mungkin tidak akan mengakuinya, tetapi hal ini benar adanya. Hanya 5 atau 10 persen masyarakat melakukan tindakan yang berlawanan dengan norma.

Kota Surabaya indah oleh banyak bunga. Warna warni, dan tidak lagi monoton. Pepohonan yang ditanam sudah melewati masa yang panjang. Bukan tiba-tiba turun dari langit. Apa yang dikerjakan Pemerintahan Kota Surabaya nyata (tangible). Dinikmati masyarakatnya. Sukses membangun kekuatan persuasi untuk meraih hasil maksimal. Upaya ini saya sebut, Validasi Kecerdasan Sosial ala Surabaya. (*)

*)Penulis adalah jurnalis senior dan penulis buku

Marketing Analysis 2018