Usaha Kuliner Nur Aini Bantu PSK Eks Lokalisasi Bangunsari Beralih Profesi

Usaha Kuliner Nur Aini Bantu PSK Eks Lokalisasi Bangunsari Beralih Profesi

Teks: Nur Aini yang sukses mengembangkan usaha kuliner dan mempekerjakan para eks PSK lokalisasi Bangusari. foto: arya wiraraja/enciety.co.

“Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja.”

Sepenggal kata bijak yang ditulis Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih karib dengan julukan Buya Hamka di atas, agaknya menginsyafi Nur Aini, pelaku usaha kreatif Pahlawan Ekonomi Surabaya. Dia yang sukses berbisnis katering dari nol, kini juga berhasil mengangkat kehidupan beberapa mantan pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Bangunsari.

Nur Aini mulai merintis usaha katering. Produknya berupa kue kering, kue basah, dan nasi kotak dengan label Dupak Makmur Bersama (DMB). Dia melayani pelanggan dari Surabaya dan sekitarnya. Awalnya, orderan banyak datang dari berbagai kegiatan hajatan warga sekitar. Lamat-lamat berkembang memenuhi kebutuhan acara di Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan instansi swasta di Kota Pahlawan.

Pada awal tahun 2012, Pemkot Surabaya merencanakan menutup lokalisasi Bangunsari. Saat itu, Nur Aini yang sudah mulai mengembangkan usaha DMB, berinisiatif menyewa satu wisma yang tempatnya berdekatan dengan tempat tinggalnya di Jalan Bangunsari IV, Surabaya.

“Kebetulan dapat kabar penutupan dari pemkot pemilik wisma tersebut juga mulai bersiap untuk menutup usahanya,” ujar Nur Aini yang lahir tanggal 10 Oktober 1966, itu.

Ibu dua orang anak tersebut memang berhasrat besar ingin ikut mengentas masyarakat di sekitar tempat tinggalnya dari kabut kelam lokalisasi Bangunsari.

Alhamdulillah, usaha menyewa wisma berjalan mulus. Nur Aini kemudian ‘menyulap’ wisma tersebut menjadi rumah produksi, Dia pun memberanikan diri untuk mempekerjakan beberapa orang mantan pekerja wisma tersebt.

Usaha Nur Aini menarik perhatian beberapa tetangga yang ada di wilayah tersebut. Hingga ada 10 orang pekerja seks komersial (PSK) yang ikut membantu.

“Sepuluh orang PSK itu saya sediakan gerobak dan membantu saya pada siang hari berjualan beberapa produk kuliner. Namun di malam hari, mereka masih saja kerja di wisma (melayani para hidung belang, red). Bagi saya, yang dilakukan merea merupakan sebuah langkah maju. Minimal mereka ada pekerjaan setelah lokalisasi Bangunsari ditutup,” cetus Nur Aini.

Akhir 2012, setelah lokakisasi Bangunsari resmi ditutup, banyak dari mantan pegawai wisma dan mucikari yang ikut membantu usaha Nur Aini. Setiap hari sedikitnya ada 25 orang yang membantu dia dalam hal produksi.

“Pada akhirnya, bukan hanya mantan para pekerja wisma yang bekerja di tempat kami, melainkan juga masyarakat yang ada di sekitar juga tertarik dan ikut membantu bekerja di DMB,” papar dia.