Ubah Kemasan, Jamu Gendong Sutinem Raup Jutaan Rupiah

Ubah Kemasan, Jamu Gendong Sutinem Raup Jutaan Rupiah

Sutinem bersyukur jamu buatannya kini telah naik kelas. Foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Tak ada yang berubah dari Sutinem. Perempuan 50 tahun itu tetap murah senyum dan ramah kepada semua orang. Dia juga selalu bergembira menjelaskan apa saja yang berkaitan soal jamu. Dari khasiat temulawak, beras kecur, sinom, kunyit asam, dan masih banyak lagi.

Sejak tahun 1980, Sutinem melakoni profesi sebagai penjual jamu gendong. Semua bahannya diracik sendiri, mewarisi resep keluarga. Saban hari Sutinem menyisir kawasan Pasar Kembang Surabaya menjajakan jamunya

Sutinem mulanya menempati kos di Wonorejo bersama suaminya, Sarno, yang berjualan bakso di Kampung Malang Wetan. Di situ juga tinggal empat anaknya, Ika Susilowati, Endangsri Dewi Setyoawti, Tri Widowati, Sri Mulyo Restu Basuki.

Sutinem dan suaminya tak pernah lelah berjuang menyejahterakan keluarganya. Mereka berusaha menyekolahkan keempat anaknya itu hingga perguruan tinggi.

Berbagai cara terus dilakukan agar usahanya mengalami peningkatan. Dari menawarkan produk ke perseorangan dan perseroan, sampai mendatangi pelatihan untuk meningkatkan kompetensi.

Tahun 2010, Sutinem dikabari ada pemberitahuan dari kecamatan yang menerima dana kucuran dari Pemkot Surabaya. Syaratnya, Sutinem harus  membentuk sebuah kelompok usaha dengan jumlahnya 10 orang yang berasal dari pembuat jamu.

Tak dinyana, kesempatan Sutinem mengenalkan jamunya semakin terbuka lebar usai dirinya diambil Kelurahan Jajar Tunggal, Kecamatan Wiyung untuk mewakili usaha kesehatan menengah (UKM) di Pemkot Surabaya. “Hanya satu orang saja dan saya yang terpilih sampai sekarang,” ujarnya sumringah saat ditemui enciety.co di rumahnya di Jalan Dukuh Gemol, Surabaya.

Kelompok ini kemudian sepakat dengan memilih nama Jamu Seger Waras. Sayangnya, keberadaan kelompok ini tidak berlangsung lama. “Akhirnya buyar dan saya sendiri terus ikut pelatihan di kecamatan dan dinas terkait,” kenangnya.

Dalam perkembangannya, Sutinem masuk menjadi peserta yang berhak ikut pelatihan Pahlawan Ekonomi. Hampir tiap pekan Sutinem mengikuti pelatihan Pahlawan Ekonomi di Grosir Kapas Krampung (GKK). Sutinem senang diajari membuat packaging atau kemasan agar jamu buatannya dapat dijual di atas harga rata-rata.

Benar saja, berkat pendampingan yang dilakukan Timothy Lee, kreator desain grafis dari Kreavi, packaging  jamu Sutinem jauh lebih keren dengan nama Ombe. Sementara jamu Seger Waras tetap dijual untuk kalangan menengah kebawah.

“Mas Timmy (panggilan karib Timothy Lee) yang memberi nama. Sangat menarik. Saya sekarag bisa jualan jamu yang biasa Rp 10 ribu per botol menjadi Rp 15 ribu per botol,” ucap Sutinem.  Jamu dengan packaging baru tersebut dijual Sutinem di toko, bukan untuk masyarakat.

Marketing Analysis 2018