Tunduknya Sektor Usaha dan Bisnis pada Jawara Informasi

Tunduknya Sektor Usaha dan Bisnis pada Jawara Informasi

Unung Istopo Hartanto, peneliti Enciety Business Consult. foto:arya wiraraja/enciety.co

Awal tahun 2000an, deretan televisi menghiasi dinding news room salah satu media elektronik besar. Berita dari televisi, media cetak, internet kala itu dan catatan para pemburu berita, diramu menjadi karya jurnalistik yang mantap dan siap disiarkan, dipublikasikan ke khalayak. Karya atau hasil produksi yang siap dikonsumsi oleh consumer.

Melalui proses quality control ketat dari industri media, hasil produksi informasi ini dapat dinikmati dengan utuh dan benar. Begitu kuatnya peran media sebagai penyampai informasi, membuat dunia usaha dan bisnis juga terus membersamai. Saling menguatkan dan mem-filter diri dengan memberikan informasi produk dengan rinci. Dorongan dari media ini meningkatkan top of mind (awareness index), sehingga peningkatan konsumsi produk sesuai dengan yang diharapkan dan sejalan dengan persepsi nilai dari consumer.

Tahun 2000an, awal tumbuhnya search engine, hingga tahun 2010 internet menjadi cukup mature (internet maturity). Tahun 2000, pengguna internet masih sekitar 2 juta user, variabilitas segmen consumer belum begitu lebar. Hal ini membuat dunia usaha dan industri mampu secara lengkap melihat dunia consumer dengan sangat transparan.

Hari ini, di zaman now, pengguna internet sudah naik 50-60 kali lipat sejak tahun 2000. Jawara informasi bukan lagi pada industri yang memiliki kemampuan teknologi tinggi, tapi pada consumer, khususnya digital native.

Riset lifestyle and consumption pattern yang dilakukan enciety Business Consult pada tahap tumbuhnya e-commerce dan social media di tahun 2013- 2014, menunjukkan probabilitas digital native pada kelompok middle high class untuk akses internet dengan nilai median 85%. Sedangkan pada kelompok middle low nilai median 65%.

Statistik telekomunikasi Indonesia BPS 2015, juga menunjukkan pengeluaran internet makin meningkat. Tercatat rata-rata di atas Rp 100 ribu per rumah tangga.

Consumer zaman now dengan senjata mobile device dan jaringan yang tidak terbatas mampu memiliki sudut pandang pada usaha dan bisnis jauh lebih  transparan dibandingkan dunia bisnis melihat consumers-nya. Hingga tak mudah, dengan cara biasa, usaha dan bisnis paham consumer-nya karena variabilitasnya sangat tinggi.

Consumer zaman now terlahir dengan 100 teman di dunia nyata, tetapi memiliki konektivitas bisa 100 kali lipat dan tak lagi tergoda dengan media penyedia informasi mainstream. Karena dalam genggamannya, ada lebih dari 10-30 grup dan social media app yang tiap detik ribuan informasi siap di-filter. Pekerjaan rumah kita, untuk memahami bagaimana proses quality control oleh para jawara informasi ini dilakukan. Bersiaplah. Salam.