Trully 101 True Fashion Earth Buka Rahasia Bisnis Handicraft

Trully 101 True Fashion Earth Buka Rahasia Bisnis Handicraft

Trully Nurul Evandiari memberi tips dan trik usaha handicraft dalam pelatihan Pejuang Muda & Pahlawan Ekonomi di Kaza City Mall Surabaya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Bisnis handicraft menjanjikan peluang besar meraup keuntungan. Selain pasarnya terus bertumbuh, usaha ini juga memberi keleluasaan berinovasi dan berkreativitas.

Hal itu mengemuka dalam seminar bertajuk “Peluang dan Tantangan Bisnis Handicraft” Pajuang Muda dan Pahlawan Ekonomi yang berlangsung dua hari, Sabtu-Minggu (22-23/8/2018) di Kaza City Mall Surabaya.

Hadir sebagai narasumber Trully Nurul Evandiari, owner 101 True Fashion Earth. Perempuan yang  memulai usaha sejak tahun 2018 itu, kini penjadi pelaku usaha sukses. Dia membuat banyak produk handicraft berkualitas dengan bahan alam.

“Persaingan bisnis handicraft sangat pesat. Pemainnya makin banyak. Persaingannya pun ketat. Anak-anak muda sekarang jauh lebih kreatif. Jika kita tetap melakukan dengan cara yang sama, pasti akan kalah,” kata Trully.

Menurut dia, ada dua hal yang melatarbelakangi bisnis handicraft tetap menjanjikan. Pertama, terkait selera pembeli. Hingga kini, banyak  produk-handicraft yang diminati pasar.

“Lihat saja, banyak pembeli yang mengaku belum punya jenis produk tertentu, misalnya kalung, padahal di rumahnya banyak juga yang sudah dikoleksi,” ujarnya.

Kedua, sambung Trully, terkait masalah tren. Banyak yang bisa dieksplorasi dari model-model handicraft. Kita bisa membandingkan model terkini dqn paling disukai. Baik konsumen domestik maupun luar negeri.

“Seperti Eropa dan Amerika. Yang saya adaptasi dengan bahan alam, mereka lebih menyukai warna lembut. Lain kalau di kita yang suka warna blink-blink,” tegasnya.

Sementara, tantangan yang dihadapi pelaku usaha handicraft berbahan alam terkait ketersediaan bahan. Jika pesanan dalam jumlah besar dan harus sama akan kesulitan.

Ia lalu bercerita awal memulai usaha. Saat itu, Trully terus mengeksplorasi bahan-bahan yang bisa dijangkau. Salah satunya membuat kalung dan gelang dari bahan kayu sono dan tulang sapi.

Untuk bahan kayu, Trully memanfaatkan kayu bekas mebel. Sedang bahan tulang didapat dari pedagang kikil dan gulai.

“Kondisinya berbeda. Khususnya untuk bahan kayu. Sekarang perajin mebel jarang mau jual kayu sisa. Untuk mengatasinya, saya fokus dengan bahan tulang. Bahan kayu saya gunakan untuk tambahan saja,” ungkap Trully.

Untuk bahan tulang, ia mengaku kesulitan jika ada pesanan dalam jumlah besar. Kata dia, bahan memang mudah didapat, namun  bentuknya tidak bisa serupa.

“Namanya juga bukan bahan buatan pabrik. Bentuk tulangnya pasti tidak sama. Ada yang bentuknya bulat, agak lonjong. Bisa juga tulangnya berbentuk huruf Q,” jabar Trully.

Terkait bahan itu, Trully selalu memberi pengertian pembeli dan pelanggannya. Untuk menjaga kualitas, ia menyarankan agar dapat membuat produk yang nampak serupa.

“Salah satu kompensasi bisa dengan memberi bonus pelayanan dan program promosi. Ini agar pelanggan kenal dengan brand dan mau membeli lagi produk kita,” papar dia.

Trully menambahkan, banyak para pelaku usaha belum memahami pentingnya label usaha alias brand.

“Padahal dengan brand yang kuat, usaha bakal dikenal. Jika begitu, kita akan dicari pelanggan,” tegas Trully.

Untuk menentukan brand, Trully menyarankan tidak usah terburu-buru.  Brand juga harus memiliki makna dan filosofi jelas.

“Nama itu adalah doa. Jadi sudah sewajarnya jika kita memberi nama usaha yang baik. Nama brand yang gampang diingat. Contohnya, label 101 True Fashion Earth punya saya ini. Label ini punya makna tersendiri dan mudah diingat,” kupasnya. (wh)

Trully 101 True Fashion Earth Buka Rahasia Bisnis Handicraft
foto:arya wiraraja/enciety.co
Marketing Analysis 2018