Tips Bisnis: Bikin Roadmap, Jangan Telantarkan Ide

Era sekarang semua orang memiliki ide. Namun, jika ingin usaha maju dan sukses harus menurunkan ide besarnya tersebut dalam bentuk roadmap.

“Bikin langkah-langkah detailnya. Kalau ada 10 orang rapat di kantor nih, pas di tanya ide semua bakal tunjuk tangan. Tapi begitu disuruh menjalankan paling-paling cuman satu yang bisa,” ujar Rhenald Kasali, Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dalam acara Suara Surabaya Economic Forum 2019 (SSEF2019) di Grand City Convex Surabaya, Rabu (5/12/2018).

Menurut Rhenald, jika berbicara roadmap, dibutuhkan kompetensi yang tinggi untuk mewujudkan hal tersebut menjadi tindakan-tindakan nyata.

“Pada 2019 mendatang, situasi usaha kita penuh dengan ketidakpastian. Untuk itu, jika ingin bertahan dan sukses dibutuhkan mereka yang dapat mengambil tindakan strategis,” kata dia

Rhenald mencontohkan Donald Trump, presiden USA saat ini hingga mencapai sukses dan kaya raya seperti sekarang ini. Pada tahun 1980an, Trump membaca sebuah berita yang isinya saat itu Presiden Gerald Ford yang memerintah USA saat itu membuat keputusan jika dirinya tidak akan membantu New York jika meminta bantuan kepada Pemerintah Federal atau Pemerintah Pusat USA. Saat itu keadaan ekonomi di New York jatuh. Banyak usaha tutup dan bangkrut.

Lantas, keadaan itu dimanfaatkan Trump untuk membeli salah satu Hotel yang saat itu bernama Hotel Commodore dengan harga USD 1. Kelak, Hotel tersebut menjadi Hotel Grand Hyatt New York yang di jual dengan harga USD 60 juta. Lewat contoh tersebut, Rhenald ingin mengatakan jika dalam setiap zaman ada sebuah perubahan kecil dan kesulitan. Namun, jika seseorang dapat melewati hal tersebut dengan berani membuat sebuah keputusan, kesuksesan bakal menunggunya.

Dalam kesempatan tersebut, Rhenald mengatakan keadaan perekonomian saat sangat dipengaruhi kebijakan yang dilakukan USA. Sekitar sepuluh tahun lalu pada 2008, kapitalisme mencapai puncaknya. Hal itu ditandai krisis ekonomi yang melanda USA. Melihat hal tersebut USA menerapkan kebijakan quantitative easing.

Lewat kebijakan itu, uang dibikin beredar sangat banyak di USA, lalu bunga bank dibikin sangat rendah mendekati 0 persen. Tujuannya mendorong pembangunan ekonomi domestik di USA.

“Tapi, kebijakan itu membuat banyak orang di USA takut berinvestasi. Akhirnya, yang mengambil peluang tersebut adalah para pemain saham yang bermain saham di negara lain seperti di Indonesia. Mangkanya kita liat di zaman Pak SBY uang dolar banyak masuk dan nilai saham kita skornya tinggi sekali,” urai dia.

Lalu, sebut dia, langkah kedua yang diambil USA adalah industry oversize. Dengan cara ini USA banyak membuka pabrik di wilayah negara berkembang. Contohnya di Indonesia, China, Brazil, Thailand, Singapore, Malaysia, Korea dan lain sebagainya.

“Kalau dibikin di USA barangnya pasti gak laku, mangkanya dia bikin di negara yang pertumbuhannya lagi bagus. Salah satunya ya Indonesia,” tegasnya.

Terakhir, 2018 ini keadaan perekonomian USA mulai membaik. The Fed mengumumkan banyak investasi yang masuk di USA. Partai Republik yang mendukung Trump di parlemen membuat kebijakan tax reduction dengan memberikan potongan nilai pajak di USA. Kebijakan ini membuat banyak orang di USA kelebihan likuiditas dan hal itu memicu inflasi.

Untuk mengimbangi kebijakan itu, The Fed membuat kebijakan dengan menaikan bunga bank. Kebijakan itu jelas memicu kekhawatiran pelaku usaha. Akhirnya, The Fed membuat kebijakan quantitative tightening untuk menarik kembali uang dolar yang beredar di seluruh dunia.

“Rata-rata satu bulan Dolar pulang kampung 50 billion US Dollar. Nah, yang tadinya banyak pinjaman dalam bentuk dolar di bank, sekarang banyak orang takut untuk pinjam karena Dolar pulang kampung. Akhirnya sekarang kita oversupply,” cetusnya.K

ondisi oversupply ini, sambung Rhenald, tidak hanya terjadi di Indonesia saja, melainkan diseluruh dunia. Menurut dia, kondisi ini tidaklah berbahaya bagi dunia industri Indonesia. Hal itu dikarenakan jika dihitung dan dibandingkan kenaikan harga tiap tahun dengan kondisi oversupply yang sekarang terjadi tidak ada pengaruhnya. (wh)

Marketing Analysis 2018

Berikan komentar disini