Tinggalkan Manik-Manik, Sukses Garap Kerudung Lukis

Tinggalkan Manik-Manik, Sukses Garap Kerudung Lukis

Wulan Setyasih di workshop Chawaty Collection

Menjadi single parent bagi kedua anak perempuannya sejak tujuh tahun lalu, tidak membuat Wulan Setyasih untuk menyerah. Ia terus bangkit dengan memompa kemampuan diri dan menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Hasilnya, ibu rumah tangga itu kini mampu mendulang uang jutaan rupiah per bulannya dari bisnis batik lukis dan manik-manik.

Wulan menuturkna, awal-awal terjun menekuni bisnis ini bisa dibilang tak sengaja. Ketika itu, tahun 1998, ia harus menjalani hidup mandiri selepas meninggalkan pekerjaan sebagai penjaga toko di sebuah koperasi.

“Karena bayaran tidak nutut untuk keluarga, akhirnya saya banting setir menjadi perajin manik-manik,” tutur dia kepada enciety.co di kediamannya Jalan Jambangan I/3A, Surabaya.

Wanita berambut sebahu ini, terus mencoba peruntungan di pasar kerajinan manik-manik bersama salah seorang rekannya. Berbagai perhiasan manik-manik seperti gelang, kalung dihasilkan oleh ketrampilan tangannya secara otodidak.

Bisnis yang dilakoni Wulan berjalan landai-landai saja. Kalaupun ada peningkatan tidak siginikan. Bisa dikatakan sangat jauh untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Terlebih ia bercita-cita ingin menyekolahkan dua anaknya hingga lulus perguruan tinggi.

Memasuki tahun 2010, Wulandiajak Wiwit Manfaati, tetangganya yang sukses mengembangkan kerajinan berbahan eceng gondok. Wulan lantas diajak bergabung dengan Pahlawan Ekonomi Surabaya. Disana Wulan mengikuti berbagai macam pelatihan.

“Oleh ibu Wiwit saya diajak belajar pertama kali di Kapas Krampung Plaza (Kaza) untuk mengikuti berbagai pelatihan Pahlawan Ekonomi. Alhamdulillah, saya menemukan jalan untuk sukses,” ucapnya.

ukm-chawati-pe-2   ukm-chawati-pe-1

Saat pelatihan Pahlawan Ekonomi inilah, bakat Wulan makin terasah. Beberapa instruktur Pahlawan Ekonomi tanpa ia sadari melihat perkembangan kemampuannya. Mereka kemudian menyarankan agar Wulan harus tak lagi berkonsentrasi membuat kerajinan manik-manik lagi, tetapi lukisan. Karena menurut mentornya tersebut, dunia kerajinan manik-manik sudah banyak dikuasai wanita di Kota Surabaya.

Dengan ketekunannya yang luar biasa untuk belajar agar dapat mengubah nasibnya, Wulan akhirnya mempunyai ide untuk membuat lukisan di baju muslimah, kerudung, dan tas. Hasilnya pun mulai terlihat. Beberapa produk yang dihasilkan Wulan menarik perhatian pembeli.

Dengan modal cat acrylic berbagai warna, kuas dan triplek serta kaca, dirinya dapat menghasilkan ide lukisan baru kepada pecinta baju muslimah dan kerudung buatannya.

“Bila ada pesanan semua lorong rumah penuh. Hingga semua berantakan rumah ini,” ucap pemilik usaha mikro kecil (UMK) Chawaty Collection ini, lalu tersenyum.

Per harinya kini, wanita yang mempunyai dua pegawai tersebut dan kadang dibantu kedua anaknya, yaitu Rena Dwi Galisyia dan Alivia Wahyu Setya Wardani itu, dapat menyelesaikan 15 lukisan kerudung pesanan di workshop miliknya berukuran 1,5 x 2 meter ini.

Bukan itu saja, karya-karya Wulan juga mendapat apresiasi banyak kalangan. Puluhan penghargaan ia dapatkan. Di antaranya Penghargaan Pahlawan Ekonomi Surabaya 2012 untuk kategori Creative Industry, Perhargaan Karya Cipta Adi Nugraha dari Disperindag Surabaya dan Disperindag Jatim.

“Saya juga besyukur karena sejak tahun 2012 saya sudah punya legalitas atas bantuan Pahlawan Ekonomi,” ucapnya, bangga.

Sukses dengan lukisan, Wulan kini mencoba untuk membuat souvenir khas Surabaya. Di antaranya gantungan kunci yang bermodel udeng atau blangkon  hingga bergambar Suro dan Boyo. Sehari, Wulan mampu menghasilkan produksi 200-300 gantungan kunci,

“Dengan banyak inovasi membuat masyarakat tidak akan jenuh dengan produk yang dihasilkan. Ide-ide harus segar agar barang yang dihasilkan dapat diterima oleh pasar,” paparnya.

Dalam daftar harga yang dilempar ke pasar, untuk gantungan kunci, dirinya membanderol dengan harga Rp 8-12 ribu. Untuk kerudung lukis diberi harga Rp 45-100 ribu, baju Rp 150-600 ribu, tas lukis Rp 85-175 ribu.

Wulan Setyasih juga memasarkannya melalui media sosial dan situs e-commerce terkemuka di Indonesia, Bukalapak. Dirinya merasa makin bersemangat jualan online setelah mengikuti pelatihan Bukalapak di Kaza City, beberapa waktu lalu.

“Kepada pegawai, saya tanamkan lebih bagus kerja sendiri dibanding ikut orang atau minimal mengikuti jejak saya,” tukasnya. (wh)