Tiga Mentor PE Diundang ke Waropen Papua

Tiga Mentor PE Diundang ke Waropen Papua

Wiwit Manfaati melatih Mama-Mama Papua.foto:ist

Tiga mentor Pahlawan Ekonomi (PE) Surabaya memberikan pelatihan Kabupaten Waropen Provinsi Papua. Mereka, Wiwit Manfaati (owner Witrove), Aciek Yuli (owner Ama Opi), dan Sri Andriyani (owner Puspazary).

Mereka berangkat ke Papua atas undangan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Pelatihan digelar dua hari, 29-30 November 2018.

Wiwit cs berangkat naik pesawat dari Surabaya ke Makasar selama dua jam. Setelah transit di Makasar, mereka lantas take off ke Kabupaten Biak Numfor, menempuh perjalanan 1,5 jam.

“Dari Biak kita harus nunggu kapal yang ke Kabupaten Waropen. Jadwalnya cuma tiga kali seminggu,” ungkap Wiwit.

Tiba di Kabupaten Waropen, imbuh dia, mereka harus menempuh perjalanan darat selama delapan jam. Kata Wiwit, Waropen adalah daerah yang eksotik dengan pemandangan memesona. Hanya saja, aksesnya sangat sulit. Medan jalan yang ditempuh juga berliuk-liuk.

“Kita juga melewati daerah pesisir. Daerah yang akan kita singgahi terletak di atas bukit, dibatasi wilayah laut. Info pemerintah setempat, Waropen masuk daerah khusus untuk transmigrasi. Banyak hasil alam, tanaman, dan hasil laut yang berlimpah,” tutur Wiwit.

Tiga Mentor PE Diundang ke Waropen Papua
foto:ist

Wiwit cs mengajar di Gedung Sekolah Perempuan Kabupaten Waropen. Dia mengaku senang dengan semangat peserta pelatihan. Beberapa di antara peserta harus rela naik kapal, menempuh perjalanan laut selama tiga jam.

“Saya sungguh terharu. Dari 30 peserta yang ikut, sepertiga mama Papua yang menempuh perjalanan panjang agar bisa dapat ilmu. Mudah-mudahan ilmu yang kita tularkan ini bisa bermanfaat,” cetus perempuan berjilbab ini.

Wiwit mengungkapkan, materi pelatihan yang diajarkan membuat kalung wayer berbahan kulit kerang. Materi ini sengaja dipilih karena produk tersebut sangat populer dan banyak dipakai masyarakat Kabupaten Waropen, khususnya untuk upacara adat.

“Kalau upacara wajib pakai kalung itu. Jadi produk ini pasti laku dijual. Harapannya setelah ikut pelatihan ini mereka dapat memproduksi dan mendapatkan pemasukan,” kupas Wiwit.

Wiwit juga menceritakan susahnya pelatihan di Waropen. Kata dia,di sana tiap jam sepuluh pagi sampai jam empat sore, listrik selalu padam. Padahal dia membutuhkan alat-alat untuk mendukung pelatihan, seperti lem tembak atau alat pengering. Hari pertama pelatihan, Wiwit terpaksa menggunakan lilin. Namun pada pelatihan kedua, pejabat dinas Waropen meminta bantuan PLN setempat agar menyalakan listrik lebih lama.

“Saat itu, di hari kedua pelatihan, sudah disediakan genset. Njagani kalau listrik mati. Karena listriknya menyala sampai sore, gensetnya gak jadi dipakai,” terang Wiwit.

Menurut Wiwit, setelah ikut pelatihan, beberapa peserta sudah bisa membuat kalung wayer berbahan kulit kerang. Meski hasilnya kurang maksimal, namun kualitasnya layak jual.

“Saya sempat kaget. Di Surabaya, kalung itu biasa dijual Rp 150 ribu. Tapi di sini (Waropen, red) bisa laku Rp 300-350 ribu,” papar Wiwit. (wh)

 

Marketing Analysis 2018

Berikan komentar disini