Tiap Tahun Konsumsi Plastik di Indonesia Bertambah 30 Persen

Tiap Tahun Konsumsi Plastik di Indonesia Bertambah 30 Persen

Teks: Ketua Harian KPD Jatim Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), Steven J Tasik (pembina ADUPI), Willy Tandiyo (pembina ADUPI), Ketua ADUPI Christine Halim, dan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (9/2/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Plastik merupakan salah satu limbah anorganik atau limbah yang sangat sulit untuk diurai alam dan penanganannya harus melalui campur tangan manusia. Agar lingkungan yang ditinggali tetap terjaga, sudah selayaknya masyarakat ikut menjaga dengan lebih bijak dalam mengonsumsi dan mengolah limbah plastik.

Hal itu disampaikan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (9/2/2018).

“Saat ini, barang-barang dari plastik mulai menggantikan barang-barang yang dahulu yang dihasilkan dari alam. Contohnya, tempat duduk yang dulu dibuat dari kayu, kini bahan dasarnya mulai beralih menjadi bahan dasar yang berasal dari plastik,” tegas Kresnayana.

Dalam acara itu juga dihadiri Steven J Tasik, Ketua Harian KPD JATIM Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), Willy Tandiyo (pembina ADUPI, Ketua Umum ADUPI Christine Halim,

Kresnayana menjelaskan, Indonesia merupakan penghasil limbah plastik nomor dua terbesar setelah China. Untuk itu, ke depan, sudah selayaknya Indonesia mulai dapat lebih bijak dalam mengonsumsi plastik.

Menurut Kresnayana, saban tahun, konsumsi plastik di Indonesia terus bertambah sekitar 30 persen. Lantas, jika ditelisik dari sudut perspective bisnis, Kresnayana mengatakan, hal ini sebenarnya merupakan satu peluang usaha baru yang jika dimanfaatkan dan dikelola dengan bijak akan mendatangkan manfaat bagi lingkungan.

“Saat ini, ada ratusan macam barang-barang yang terbuat dari plastik. Hal ini merupakan growth annually, dalam arti perkembangannya bergantung dari kreativitas para pelaku usaha yang melakoninya,” ujar Kresnayana.

Lebih lanjut, kata dia, ada tiga hal yang dapat dilakukan masyarakat untuk menangani kelebihan konsumsi plastik di Indonesia. Pertama, mengurangi penggunaan bahan plastik, kedua adalah mampu mendaurulang sampah atau limbah plastik menjadi produk-produk yang lebih bermanfaat dan yang terakhir adalah dapat melakukan bisnis atau usaha dari hasil limbah plastik.

“Ketiga hal ini wajib dilakukan masyarakat. Karena ke depan, bisnis daur ulang atau pengolahan limbah plastik ini dapat menjadi bisnis yang menjanjikan. Contohnya, menurut catatan kami, ada satu Kecamatan yang ada di wilayah Kota Surabaya yang dapat menghasilkan pemasukan Rp 400 juta setahun hanya dari daur ulang limbah,” tegas Krenayana.