Terapkan Regulasi Bayar Pajak Tinggi untuk Buang Sampah

Terapkan Regulasi Bayar Pajak Tinggi untuk Buang Sampah
Koichiro Eguchi, Kepala Bagian Pengembangan Beetle Nishihara Co, Ltd, menunjukkan tempat pengolahan sampah di perusahaan tersebut. arya wiraraja/enciety.co

Di Kota Kitakyushu, Provinsi Kokura, Jepang, sampah yang ada dipilah-pilah. Seperti sampah plastik, sampah kaleng, sampah kaca dari gelas dan botol dan sampah rumah tangga. Hal tersebut dilakukan di Beetle Nishihara Co, Ltd.

Bedanya, meskipun volume sampahnya mencapai 60 ton per hari atau 20 truk per hari, satu truk sampah dapat membawa 3 ton sampah. Tapi, proses penanganan yang dilakukan jauh lebih cepat. Ini tak lepas dari besarnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah. Di Jepang, setiap yang membuang sampah, seperti rumah tangga, restoran, atau supermarket, dikenakan pajak sangat tinggi.

Ketika mendengarkan hal tersebut dari Koichiro Eguchi, Kepala Bagian Pengembangan Beetle Nishihara Co, Ltd, saya sempat tertegun. Di dalam hati saya tidak percaya, namun ketika kami diajak untuk melihat langsung proses pengolahan sampah di Kota Kitakyushu, saya pun percaya 100 persen.

Ketika dibuang di tempat pembuangan sampah (TPS), kondisi sampah telah dipilah-pilah sesuai jenisnya, seperti botol plastik, botol kaca, kaleng, sampah kardus, atau sampah lainnya.

“Petugas kami tinggal mengambil dan mengangkut pakai truk. Kebetulan kami hanya menangani sampah anorganik seperti botol plastik, botol kaca, kaleng, dan kardus. Sedang sampah organik ditangani pemerintah,” kata Koichiro Eguchi.

Di Beetle Nishihara Co, Ltd, sampah-sampah yang diturunkan dari truk, kemudian dipilah-pilah lagi dengan menggunakan mesin dibantu beberapa manusia sebagai tenaga manual. Pemilahan di sini hanya untuk menentukan mana yang bisa dipakai atau didaur ulang untuk dijual lagi dan mana yang tidak bisa dipakai.

Misalnya botol dari bahan kaca. Hanya botol berwarna terang dan bening yang bisa dipakai lagi untuk di-recycle. Sedang yang berwarna gelap tidak bisa dipakai lagi, sehingga ditimbun di dalam tanah.

“Untuk sampah botol plastik dan bahan plastik lainnya bisa dijual untuk di-recycle,” papar Koichiro penuh semangat.

Limbah sampah yang telah disortir itu, kemudian dipres dan ditimbun dengan menggunakan mesin berat. “Selanjutnya kita jual kepada perusahaan yang membutuhkan untuk diolah kembali menjadi barang yang bermanfaat,” ujarnya.

Truk pengangkut sampah di Kitakyushu, kondisinya sangat bersih dan tertutup rapat, seperti truk kontainer. Sehingga, menghilangkan image kalau sampah itu bau atau kotor. Hal ini yang harus ditiru oleh Kota Surabaya ke depan.

Koichiro Eguchi mengatakan, untuk mengelola sampah secara tersistem seperti yang ada di Kota Kitakyushu, dibutuhkan pengelolaan sampah dari tingkat paling kecil, yaitu di tingkat rumah tangga sampai di tingkat pemerintah kota.

“Di tingkat rumah tangga, jika sampah yang mereka hasilkan melebihi kuota yang telah diatur oleh perda Kota Kitakyushu, maka mereka dikenakan biaya tambahan untuk hal tersebut. Mekanismenya mereka akan didatangi oleh petugas di rumah mereka,” ungkapnya.

Langkah tersebut ternyata sangat efektif, terbukti dengan bersihnya lingkungan Kota Kitakyushu, baik itu di jalanan protokol hingga di jalan-jalan perkampungan penduduk.

Di Kota Kitakyushu, kota yang terkenal dengan sebutan kota industri itu mempercayai bahwa pengelolaan terhadap sampah dibutuhkan kesadaran akan lingkungan dan kedisiplinan.

“Kami percaya, pengelolaan akan sampah sebenarnya memiliki siklus. Kita sebagai manusia harus memastikan siklus itu terus berjalan. Kami juga percaya, jika barang yang sudah menjadi sampah, lantas menjadi barang yang tidak berguna, tapi kita harus kreativ dalam pemanfaatannya,” tandas Koichiro Eguchi.

Puas dengan pemaparan yang dilakukan olehnya dan karena keterbatasan waktu, kami bergegas meninggalkan tempat pengolahan sampah Beetle Nishihara Co, Ltd.

olah-sampah-Kitakyushu1 olah-sampah-Kitakyushu2 olah-sampah-Kitakyushu3 olah-sampah-Kitakyushu4

Ketika meninggalkan tempat itu, saya pun berpikir, jika yang dibutuhkan Surabaya adalah pola pikir hidup bersih dan disiplin dalam menangani sampah. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus mampu mendorong dengan membuat semacam peraturan daerah (Perda) yang kuat supaya masyarakat dapat sadar akan pengelolaan sampah.

Selain itu, Pemerintah Kota Surabaya juga harus mampu menyediakan fasilitas pengelolaan sampah layaknya yang dimiliki oleh Kota Kitakyushu. (wh/habis).