Terapkan Prinsip Syariah, 300 Pasar Saham Bersertifikat MUI

Terapkan Prinsip Syariah, 300 Pasar Saham Bersertifikat MUI
Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Surabaya Dewi Sriana Rihantyasni saat mengisi Perspective Dialogue, Jumat (23/1/2015).

Ketakutan masyarakat tentang investasi sebagai bentuk judi dianggap oleh Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Surabaya Dewi Sriana Rihantyasni sebagai pemikiran yang salah. Ini karena, di Indonesia telah ada sedikitnya 300 saham syariah yang sudah terdaftar dan memiliki landasan kuat dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang penerapan syariah di pasar modal dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).

Menurut Sriana, ketakutan masyarakat tentang pasar modal ini banyak dijumpai olehnya. Padahal, sesuai fatwa yang ditetapkan MUI, pasar modal syariah memiliki mekanisme berbeda dengan pasar saham lainnya. Ini karena pasar modal syariah telah menerapkan prinsip syariah. Di antaranya tidak berinvestasi di produk-produk retail yang berpotensi haram dan judi.

“Banyak orang yang takut dengan pasar modal itu. Mereka berpikir bahwa itu adalah bagian dari judi. Padahal secara mendasar ini sudah ditegaskan oleh Fatwa MUI, mekanisme pencatatan saham itu berdasar prinsip syariah,” katanya saat mengisi Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (23/1/2015).

Menurut Sriana, dari 507 pasar saham yang ada di Indonesia, 300 di antaranya sudah menerapkan mekanisme syariah. Ini mengindikasikan bahwa tidak semua pasar saham itu adalah bagian dari judi. Karena investasi tersebut diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan yang memproduksi produk halal dan sesuai syariah Islam.

“Saham syariah merupakan surat berharga bukti penyertaan modal atas suatu perusahaan dengan sistem bagi hasil. Karena itu tidak bertentangan dengan syariah Islam. Saham tersebut juga harus dikeluarkan oeh perusahaan yang bergerak di bidang usaha yang halal,” tegas Sriana.

Sedangkan jika masyarakat memilih obligasi syariah (sukuk retail), merupakan sertifikat atau bukti kepemilikan bersama atas aset tertentu dengan sistem bagi hasil. Ini berbeda dengan obligasi konvensional yang merupakan surat utang atau pinjaman yang berbunga. Penggunaan dana sukuk juga harus untuk kegiatan usaha yang halal.

Reksadana Syariah juga begitu, ini alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Sehingga harus dibantu oleh seorang manajer investasi.

“Berbeda dengan reksadana konvensional di mana manajer investasi yang mengelola dana investor bisa bebas membeli segala macam saham, untuk reksadana syariah, manajer investasi harus selektif memilih saham yang tidak bertentangan dengan syariah Islam,” imbuh Sriana.

Pengetahuan tentang pasar saham yang sudah banyak dimiliki oleh masyarakat Indonesia ini diharapkan Sriana akan berdampak pada meningkatnya investasi. Karena menurutnya, pilihan berinvestasi kian beragam dan ini harus diedukasi agar tidak terjadi kesenjangan sosial masyarakat.

“Kita harus mengubah kebiasaan pada 2015 ini. Awalnya kita hanya suka menabung sekarang kita harus beralih untuk membiasakan diri beralih ke investasi. Karena keamanan investasi kami atur dan menjamin atas modal nasabah,” paparnya.

Bahkan pihak BEI sendiri bersama OJK telah mengatur tentang resiko pasar saham yang harus dipahami masyarak. Satu di antaranya agar tidak untuk menanamkan sahamnya di perusahaan yang sedang mengalami kepailitan.

“Untuk mencegah itu, kami sudah mencegah terjadinya transaksi fee minimum jika ada perusahaan yang pailit,” pungkas Sriana. (wh)

Marketing Analysis 2018